Tampilkan postingan dengan label Geoheritage. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Geoheritage. Tampilkan semua postingan
18:28

Situs Geoheritage Yogyakarta, Penanda Terbentuknya Pulau Jawa

by , in
Menurut The Geological Society of America (2012), warisan geologi atau Geoheritage adalah situs atau area geologi yang memiliki nilai-nilai, budaya, dan nilai estetika.

Dengan memahami warisan Geologi/Geoheritage Jogja kita akan memahami sejarah geologi pembentukan Pulau Jawa mulai dari 36-60 juta tahun yang lalu (dalam skala waktu geologi disebut dengan Kala Eosen).

Di Yogyakarta terdapat sembilan geotapak (suatu situs atau singkapan batuan yang memiliki nilai geologi yang penting serta mudah dijangkau) yang mewakili sejarah geologi Jawa mulai dari masa sebelum kejayaan gunungapi purba hingga masa gunungapi modern, yang merupakan rentangan waktu hingga 50 juta tahun yang lalu. Kesembilan geotapak tersebut adalah:

  1. Monumen Batugamping Eosen (Kabupaten Sleman)
  2. Lava Bantal Berbah (Kabupaten Sleman)
  3. Endapan Abu Vulkanik Purba Candi Ijo (Kabupaten Sleman)
  4. Goa Kiskendo (Kabupaten Kulon Progo)
  5. Kawasan Sisa Penambangan Mangan Kliripan (Kabupaten Kulon Progo)
  6. Gunungapi Purba Nglanggeran (Kabupaten Gunung Kidul)
  7. Kawasan Pantai Wediombo-Siung (Kabupaten Gunung Kidul)
  8. Situs Bioturbasi Kalingalang (Kabupaten Gunung Kidul)
  9. Kawasan Geologi Parangtritis (Kabupaten Bantul)

Sumber: Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kemendikbud RI.
19:25

Potensi Geoheritage di Yogyakarta dan Sekitarnya

by , in
Liputan Geoheritage di Yogyakarta dan sekitarnya bertujuan untuk menelusuri sejarah Pulau Jawa dari kacamata Ilmu Kebumian atau sudut pandang geologi. Warisan geologi memberi bukti cerita maupun proses alam yang utuh. Peristiwa terbentuknya Pulau Jawa, bencana kebumian masa lampau, dan masa sekarang saling berkaitan. Peristiwa gempa dan erupsi gunung api banyak dijumpai dalam perjalanan liputan ini.

Peristiwa gempa dan erupsi gunung api menggambarkan suatu mata rantai yang tidak terputus dari peristiwa geologi masa lalu dan masa yang akan datang. Dengan mengamati langsung di lapangan, maka manusia bisa melihat suatu pesan alam kepada masyarakat sehingga mereka bisa bersikap bijaksana dan memiliki banyak sudut pandang untuk menyikapi ancaman bencana geologi yang sedang terjadi dan akan terjadi pada masa depan.

Menelusuri sisa-sisa letusan gunung puluhan juta tahun lalu bisa menjadi jalan edukasi dan mitigasi bencana. Masyarakat akan belajar melakukan mitigasi dengan melihat proses dan sisa-sisa erupsi gunung api sehingga tidak kaget menghadapinya di masa mendatang.

Fieldtrip Geoheritage Jogja bisa mengambil rute, yakni Lava Bantal Kecamatan Berbah, Sleman, Candi Ijo di Kecamatan Kalasan, Sekar Bolo di Jiwo Barat, Klaten, Watuprahu di Jiwo Timur, Klaten, Jurang Rejo di Tancep, Morfologi Wonosari Sambipitu, Gunung Kidul, Bioturbasi Sambipitu Kali Ngalang, dan Gunung Api Purba Nglanggeran, dan jika memungkinkan hingga Karangsambung, Kebumen.

Liputan ini sangat menarik dan jarang terungkap karena merupakan perjalanan alam untuk menelusuri sejarah Pulau Jawa, memberikan pemahaman tentang proses pembentukan gunung api purba dan sisa-sisa peninggalan gunung api purba yang menarik.

Pemerintah semestinya menangkap peluang potensi gunung api purba untuk kepentingan wisata. Keindahan gunung api purba di sepanjang perjalanan tidak kalah dengan peninggalan sejarah di luar negeri sehingga pemerintah semestinya menangkap peluang untuk mengembangkan sektor pariwisata.

  1. Lava Bantal, Berbah, Sleman: Situs yang merupakan peninggalan masa-masa awal Kejayaan Gunungapi Purba (volcanic arc). Umurnya lebih dari 30 juta tahun.
  2. Endapan Abu Vulkanik, Candi Ijo, Prambanan, Sleman: Situs ini berupa singkapan batuan endapan debu/abu gunungapi purba, membentuk morfologi bukit. Bebatuan penyusunnya terdiri dari perlapisan abu gunungapi mengandung fragmen-fragmen batuapung (pumice). Umurnya lebih dari 20 juta tahun.
  3. Konglomerat, Jiwo Barat, Bayat, Klaten: Di situs ini terdapat bukti batuan Pulau Jawa dalam Masa Sebelum Kejayaan Gunungapi Purba (non-volcanic arc). Pada saat pembentukannya terjadi, belum ada kegiatan volkanisme.
  4. Watu Prahu – Perbukitan Jiwo Timur, Klaten: Di situs ini terdapat batuan tertua di Pulau Jawa. Batuan metamorf semacam ini hanya tersingkap di tiga tempat di Pulau Jawa, yakni di Ciletuh (Jawa Barat), Karangsambung dan Bayat (kedua-duanya di Jawa Tengah). Umurnya sekitar 100 juta tahun. Tidak jauh dari lokasi batu tertua (basement rock) dijumpai batu gamping Nummulites. Batugamping ini tersusun oleh kumpulan fosil binatang laut jenis foraminifera berbentuk koin. Fauna ini sudah punah dan merupakan fosil penunjuk untuk kala Eosen (sekitar 40 juta tahun lalu).
  5. Jurang Jero, Perbukitan Tancep, Kecamatan Ngawen, Gunung Kidul: Di lokasi yang terletak di atas perbukitan di Desa Tancep ini, kita bisa melayangkan pandangan ke arah utara menikmati bentang alam, mulai dari bentang alam Gunungapi Merapi, perbukitan Baturagung yang tersusun oleh batuan-batuan old andesite formation (Formasi Semilir dan Formasi Nglanggran).
  6. Morfologi Wonosari Platform, Desa Nglipar, Gunung Kidul: Situs ini merupakan bukti dari zaman keemasan kehidupan laut seperti terumbu karang, algae, dan biota laut lainnya yang hidup pada masa 16,2 juta tahun silam di Yogyakarta dan Jawa Tengah.
  7. Bioturbasi Sambipitu, Kali Ngalang, Gunung Kidul: Di situs ini ditemukan batu gamping klastik, yaitu hasil dari endapan rombakan batuan gamping terumbu atau yang lainnya yang terjadi 16,2 hingga 5,2 juta tahun silam dan masih masuk ke dalam sistem laut terbuka. Pada batuan ini dapat dilihat sisa-sisa aktivitas organisme laut yang hidup di dasar perairan.
  8. Situs Gunungapi Purba Nglanggran, Gunung Kidul: Situs Gunungapi Purba Nglanggran merupakan jejak-jejak aktivitas volkanisme Pulau Jawa dari masa 36 juta tahun silam.
  9. Kawasan Karang Sambung, Kebumen.

13:20

Misteri Candi Borobudur, Ceplok Teratai di Danau Purba

by , in
Boleh percaya, boleh tidak: Candi Borobudur ternyata dibangun di atas sebuah danau purba. Dulu, kawasan tersebut merupakan muara dari berbagai aliran sungai. Karena tertimbun endapan lahar kemudian menjadi dataran. Pada akhir abad ke VIII, Raja Samaratungga dari Wangsa Syailendra lantas membangun Candi Borobudur, dipimpin arsitek bernama Gunadharma, selesai tahun 746 Saka atau 824 Masehi.

Hasil kajian geologi yang dilakukan Ir Helmy Murwanto MSc, Ir Sutarto MT dan Dr Sutanto dari Geologi UPN 'Veteran' serta Prof Sutikno dari Geografi UGM membuktikan, keberadaan danau di kawasan Candi Borobudur memang benar adanya. Penelitian itu dilakukan sejak 1996 dan masih berlanjut sampai sekarang. Bahkan, tahun 2005, penelitian tentang keberadaan danau purba itu oleh Dinas Pertambangan dan Energi Propinsi Jawa Tengah, CV Cipta Karya dan Studio Audio Visual Puskat, dibuat film dokumenter ilmiah dengan judul 'Borobudur Teratai di Tengah Danau'.

Hipotesa kawasan Candi Borobudur merupakan danau, pertama dikemukakan seniman-arsitek Belanda, Nieuwenkamp, tahun 1930. Dalam bukunya berjudul 'Fiet Borobudur Meer' (Danau Borobudur), dikemukakan, Candi Borobudur diimajinasikan sebagai Ceplok Bunga Teratai di tengah kolam. Kolam tersebut berupa danau. Karena morfologi di sekitarnya dikelilingi pegunungan Menoreh dan gunung api.

"Tapi hipotesa itu dianggap ilusi belaka oleh Van Erp, yang memimpin pemugaran Candi Borobudur pada tahun 1907-1911. Bahkan dianggap sebagai pendapat yang ngayawara, karena tidak didukung bukti-bukti kuat seperti prasasti tentang adanya danau di kawasan itu," kata Helmy kepada KR di Laboratorium Mineralogi dan Petrologi UPN 'Veteran' Yogya.

Hipotesa itu pada akhirnya menarik perhatian para ahli dari berbagai disiplin ilmu. Tak terkecuali Helmy dan kawan-kawan. Sebagai orang geologi yang berasal dari Muntilan, Helmy merasa tertantang untuk melakukan
penelitian serupa sejak 1996. "Yang kita teliti adalah endapan lempung hitam yang ada di dasar sungai sekitar Candi Borobudur yaitu Sungai Sileng, Sungai Progo dan Sungai Elo," katanya.

Setelah mengambil sampel lempung hitam dan melakukan analisa laboratorium, ternyata lempung hitam banyak mengandung serbuk sari dari tanaman komunitas rawa atau danau. Antara lain Commelina, Cyperaceae, Nymphaea stellata, Hydrocharis. "Istilah populernya tanaman teratai, rumput air dan paku-pakuan yang mengendap di danau saat itu," katanya.

Penelitian itu terus berlanjut. Selain lempung hitam, fosil kayu juga dianalisa dengan radio karbon C14. Dari analisa itu diketahui endapan lempung hitam bagian atas berumur 660 tahun. Tahun 2001, Helmy melakukan
pengeboran lempung hitam pada kedalaman 40 meter. Setelah dianalisis dengan radio karbon C14 diketahui lempung hitam itu berumur 22 ribu tahun. "Jadi kesimpulannya, danau itu sudah ada sejak 22 ribu tahun lalu, jauh sebelum Candi Borobudur dibangun, kemudian berakhir di akhir abad ke XIII," katanya.

Kenapa berakhir, kata Helmy, karena lingkungan danau merupakan muara dari beberapa sungai yang berasal dari gunung api aktif, seperti Sungai Pabelan dari Gunung Merapi, Sungai Elo dari Gunung Merbabu, Sungai Progo dari Gunung Sumbing dan Sindoro. Sungai itu membawa endapan lahar yang lambat laun bermuara dan menimbun danau. Sehingga danau makin dangkal, makin sempit kemudian diikuti dengan endapan lahar Gunung Merapi pada abad XI. Lambat laun danau menjadi kering tertimbun endapan lahar dan berubah menjadi dataran Borobudur seperti sekarang.

Menurut Helmy, pada saat dilakukan pengeboran, endapan danaunya banyak mengeluarkan gas dan air asin. "Tapi lambat laun tekanannya berkurang, dan sekarang kita pakai sebagai monumen saja," katanya.

Ditargetkan, pada penelitian berikutnya akan diteliti luasan danau kaitannya dengan sejarah perkembangan lingkungan Borobudur dari waktu ke waktu, mulai air laut masuk sampai laut tertutup sehingga berkembang menjadi danau, kemudian danau menjadi rawa dan menjadi dataran.

Sumber: Harian Kedaulatan Rakyat, 6 Februari 2007.
09:36

Parangkusumo Beach, The Kingdom of the Queen of the South Sea

by , in
The Parangtritis and Parangkusumo beaches are about 27km tp the south of Jogjakarta. These beaches are very close to one another but the first is much better known and more often visited. Geographically these beaches are but the border with the Indian ocean, but for the Javanese people they have a significantly more important role. Like Merapi, these beaches have a major symbolic and mistic role. The ocean, Kraton, Merapi from in fact a perfect line, from the south to the north, which undoubtedly ,marked the spirit of the men who inhabit the place.

The Parangtritis beach is very easily accessible by all kinds of transport from the city. To reach the littoral composing the described site3s you will jave to pay a contribution.

To discover Parangkusumo, go for 1km after the booths and turn right (south); a sign will announce the beach. From the main road youn can reach the beach on motorbike or on foot. In the immediate surroundings you can also see the Sentono and Pemancingan hills.

Parangkusumo is located to the west of Parangtritis. It is a beaches of black sand and dunes that change with the wind. This site is one of three sacred places in the region with the Kraton and Mount Merapi. For ceremonies on the first of the Javanese month Suro (the Javanese New Year) and quite regularly during the year, offerings from the Kraton fore Nyi Roro Kidul, Queen of the South Seas, are made here. Off holidays, it is common to see people meditating on the beach to ask a favor or simply to pay homage to the one living in the waves, Nyi Roro Kidul.

Source: Situs-Situs Marjinal Jogja (Sanctuaires Retrouvés/ Sites Out of Sight) - M. Rizky Sasono, Jean-Pascal Elbaz, Agung 'Leak' Kurniawan (Enrique indonesia, Yogyakarta: 1997).

My Instagram