19:08

Makna Filosofis Nama-nama Bregada Prajurit Keraton Yogyakarta (2)

by , in
Prajurit Nyutra

Nama Nyutra berasal kata dasar sutra mendapatkan awalan N. Kata sutra dalam bahasa Kawi berarti 1) 'unggul', 2) lulungidan (ketajaman), 3) 'pipingitan/'sinengker’(Winter, K.F., 1928, 233,266); sedang dalam bahasa Jawa Baru berarti 'bahan kain yang halus'; sedangkan awalan N- berarti 'tindakan aktif sehubungan dengan sutra'.

Prajurit Nyutra merupakan prajurit pengawal pribadi Sri Sultan. Prajurit ini merupakan kesayangan raja, selalu dekat dengan raja. Secara filosofis Nyutra bermakna pasukan yang halus seperti halusnya sutera yang menjaga mendampingi keamanan raja, tetapi mempunyai ketajaman rasa dan ketrampilan yang unggul. Itulah sebabnya prajurit Nyutra ini mempunyai persenjataan yang lengkap (tombak, towok dan tameng, senapan serta panah/jemparing). Sebelum masa Hamengku Buwono IX, anggota Prajurit Nyutradiwajibkan harus bisa menari.

Panji-panji/bendera/klebet/dwaja prajurit Nyutra adalah Podhang Ngingsep Sari dan Padma-sri-kresna. Podhang Ngingsep Sari untuk Prajurit Nyutra Merah, berbentuk empat persegi panjang dengan warna dasar kuning, di tengahnya adalah lingkaran dengan warna merah. Padma-sri-kresna untuk Prajurit Nyutra Hitam berbentuk empat persegi panjang dengan warna dasar kuning, di tengahnya adalah lingkaran dengan warna hitam.

Podhang Ngingsep Sari berasal dari kata podhang berarti 'kepodang (jenis burung dengan bulu warna kuning indah keemasan)', ngingsep = 'mengisap', dan sari = 'inti, sari'. Secara filosofis Nyutra Merah bermakna pasukan yang selalu memegang teguh pada keluhuran.

Padma-sri-kresna berasal dari tiga kata bahasa Sansekerta, yaitu: "padma" berarti 'bunga teratai', "sri" berarti 'cahaya, indah', dan "kresna" yang berarti 'hitam'. Secara filosofis Nyutra Hitam bermakna pasukan yang selalu membasmi kejahatan, seperti Sri Kresna sebagai titisan Dewa Wisnu.

Prajurit Ketanggung

Nama Ketanggung berasal kata dasar "tanggung" mendapatkan awalan ke-. Kata "tanggung" berarti 'beban, berat". Sedangkan ke- di sini sebagai penyangatan 'sangat'. Secara filosofis Ketanggung bermakna pasukan dengan tanggung jawab yang sangat berat. Hal ini ditunjukkan dengan adanya Puliyer (Wirawicitra / Wirawredhatama / Operwachmester).

Panji-panji/bendera/klebet/dwaja prajurit Ketanggung adalah Cakra-swandana, berbentuk empat persegi panjang dengan warna dasar hitam, di tengahnya adalah gambar bintang bersegi enam dengan warna putih.

Cakra-swandana berasal dari bahasa Sansekerta "cakra" (senjata berbentuk roda bergerigi) dan kata Kawi "swandana" yang berarti 'kendaraan/kereta'. Secara filosofis Ketanggung bermakna pasukan yang membawa senjata cakra yang dahsyat yang akan membuat porak poranda musuh.

Prajurit Mantrijero

Nama Mantrijero berasal kata "mantri" dan "jero". Kata "mantri" berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti 'juru bicara, menteri, jabatan di atas bupati dan memiliki wewenang dalam salah satu struktur pemerintahan'. Sedangkan “jero" berarti 'dalam'.

Secara harfiah kata Mantrijero berarti 'juru bicara atau menteri di dalam' Secara filosofis Mantrijero bermakna pasukan yang mempunyai wewenang ikut ambil bagian dalam memutuskan segala sesuatu hal dalam lingkungan Kraton (pemutus perkara).

Panji-panji/bendera/klebet/dwaja prajurit Mantrijero adalah Purnamasidhi, berbentuk empat persegi panjang dengan warna dasar hitam, di tengahnya adalah lingkaran dengan warna putih. Purnamasidhi berasal dari kata Sansekerta, yaitu "purnama" berarti 'bulan penuh' dan kata "siddhi" yang berarti 'sempurna'. Secara filosofis Purnamasidhi bermakna pasukan yang diharapkan selalu memberikan cahaya dalam kegelapan.

Prajurit Bugis

Nama Bugis berasal kata bahasa Bugis. Prajurit Bugis sebelum masa Hamengku Buwono IX bertugas di Kepatihan sebagai pengawal Pepatih Dalem. Semenjak zaman Hamengku Buwono IX ditarik menjadi satu dengan prajurit kraton, dan dalam upacara Garebeg bertugas sebagai pengawal gunungan. Secara filosofis Prajurit Bugis bermakna pasukan yang kuat, seperti sejarah awal mula yang berasal dari Bugis, Sulawesi.

Panji-panji/bendera/klebet/dwaja prajurit Bugis adalah Wulan-dadari, berbentuk empat persegi panjang dengan warna dasar hitam, di tengahnya adalah lingkaran dengan warna kuning emas. Wulan-dadari berasal dari kata "wulan" berarti 'bulan' dan "dadari" berarti 'mekar, muncul timbul'.

Secara filosofis bermakna pasukan yang diharapkan selalu memberikan penerangan dalam kegelapan, ibarat berfungsi seperti munculnya bulan dalam malam yang gelap yang menggantikan fungsi matahari.

Prajurit Surakarsa

Nama Surakarsa berasal dari kata sura dan karsa. Kata "sura" berasal dan bahasa Sansekerta berarti 'berani', sedangkan "karsa" berarti 'kehendak'. Dahulu Prajurit Surakarsa bertugas sebagai pengawal Pangeran Adipati Anom / 'Putra Mahkota'; bukan bagian dari kesatuan prajurit kraton.

Secara filosofis Surakarsa bermakna pasukan yang pemberani dengan tujuan selalu menjaga keselamatan putra mahkota. Sejak masa Hamengku Buwono IX, pasukan ini dijadikan satu dengan prajurit kraton dan dalam upacara Garebeg mendapat tugas mengawal Gunungan pada bagian belakang (Yudodiprojo, 1995).

Panji-panji/bendera/klebet/dwaja prajurit Surakarsa adalah Pareanom, berbentuk empat persegi panjang dengan warna dasar hijau, di tengahnya adalah lingkaran dengan warna kuning.

Pareanom berasal dari kata "pare" (tanaman merambat berwarna hijau yang buahnya jika masih muda berwarna hijau kekuning-kuningan), dan kata "anom" berarti 'muda'. Secara filosofis Pareanom bermakna pasukan yang selalu bersemangat dengan jiwa muda.

Sumber : Buku Prajurit Kraton Yogyakarta, Filososfi dan Nilai Budaya yang Terkandung di dalamnya, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Yogyakarta, 2008.
18:51

Makna Filosofis Nama-nama Bregada Prajurit Keraton Yogyakarta (1)

by , in
Prajurit Kraton Yogyakarta saat ini terdiri atas 10 bregada. Perbedaan antar bregada yang satu dengan yang lain ditentukan menurut atribut panji-panji (bendera), busana, dan kelengkapannya.

Nama-nama bregada/ pasukan itu adalah Prajurit Wirabraja, Prajurit Dhaeng, Prajurit Patangpuluh, Prajurit Jagakarya, Prajurit Prawiratama, Prajurit Nyutra, Prajurit Ketanggung, Prajurit Mantrijero, Prajurit Bugis, dan Prajurit Surakarsa.

Semua nama bregada prajurit, mode atribut panji-panji, warna busana, dan kelengkapan dalam prajurit Kraton Yogyakarta mempunyai makna filosofis. Berikut akan diberikan analisis makna filosofis atas nama, mode jenis panji-panji, dan warna busana itu.

Prajurit Wirobrojo

Nama Wirabraja berasal dari kata wira berarti 'berani' dan braja berarti 'tajam', kedua kata itu berasal dari bahasa Sansekerta. Secara filosofis Wirabraja bermakna suatu prajurit yang sangat berani dalam melawan musuh dan tajam serta peka panca inderanya. Dalam setiap keadaan ia akan selalu peka. Dalam membela kebenaran ia akan pantang menyerah, pantang mundur sebelum musuh dapat dikalahkan.

Dengan nama kuno dari bahasa Sansekerta secara filosofis diharapkan agar kandungan maknanya mempunyai daya magis yang memberi jiwa kepada seluruh anggota pasukan ini.

Panji-panji/bendera/klebet/dwaja prajurit Wirabraja adalah Gula-klapa, berbentuk empat persegi panjang dengan warna dasar putih, pada setiap sudut dihias dengan centhung berwarna merah seperti ujung cabai merah (kuku Bima). Di tengahnya adalah segi empat berwarna merah dengan pada bagian tengahnya adalah segi delapan berwarna putih.

Gula-klapa berasal dari kata 'gula' dan 'kelapa'. Yang dimaksud di sini adalah gula Jawa yang terbuat dari nira pohon kelapa yang berwarna merah; sedangkan 'kelapa' berwarna putih. Secara filosofis bermakna pasukan yang berani membela kesucian/kebenaran.

Prajurit Dhaeng

Nama Dhaeng berasal dari bahasa Makasar sebagai sebutan gelar bangsawan di Makasar. Secara filosofis Dhaeng bermakna prajurit elit yang gagah berani seperti prajurit Makasar pada waktu dahulu dalam melawan Belanda.

Menurut sejarah, prajurit Dhaeng adalah prajurit yang didatangkan oleh Belanda guna memperkuat bala tentara R.M. Said. R.M. Said kemudian berselisih dengan P. Mangkubumi. Padahal kedua tokoh ini semula bersekutu melawan Belanda. Puncak atas perselisihan itu adalah perceraian R.M. Said dengan istrinya.

Istri R.M. Said adalah putri Hamengku Buwono I. Pada waktu memulangkan istrinya, R.M. Said (P. Mangkunegara) khawatir jika nanti Hamengku Buwono I marah. Guna menjaga hal yang tidak diinginkan, kepulangan sang mantan istri, Kanjeng Ratu Bendara diminta agar diiringkan oleh pasukan pilihan, yaitu prajurit Dhaeng.

Setelah sampai di Kraton Yogyakarta, justru disambut dengan baik. Prajurit Dhaeng diterima dengan tangan terbuka, disambut dengan baik. Atas keramahtamahan itu prajurit Dhaeng kemudian tidak mau pulang ke Surakarta. Mereka kemudian mengabdi dengan setia kepada Hamengku Buwono I. Laskar Dhaengkemudian oleh Hamengku Buwono I diganti menjadi Bregada Dhaeng.

Panji-panji/bendera/klebet/dwaja prajurit Dhaeng adalah Bahningsari, berbentuk empat persegi panjang dengan warna dasar putih, di tengahnya adalah bintang segi delapan berwarna merah.

Bahningsari berasal dari kata bahasa Sansekerta bahningberarti 'api' dan sari berarti 'indah / inti'. Secara filosofis bermakna pasukan yang keberaniannya tidak pernah menyerah seperti semangat inti api yang tidak pernah kunjung padam.

Prajurit Patangpuluh

Mengenai asal usul nama Patangpuluh sampai sekarang belum ada rujukan yang dapat menjelaskan secara memuaskan. Nama Patangpuluh tidak ada hubungannya dengan jumlah anggota bregada.

Panji-panji/bendera/klebet/dwaja prajurit Patangpuluh adalah Cakragora, berbentuk empat persegi panjang dengan warna dasar hitam, di tengahnya adalah bintang segi enam berwarna merah.

Cakragora berasal dari kata bahasa Sansekerta "cakra" 'senjata berbentuk roda bergerigi' dan "gora", juga dari bahasa Sansekerta berarti 'dahsyat, menakutkan'. Secara filosofis bermakna pasukan yang mempunyai kekuatan yang sangat luar biasa, sehingga segala musuh seperti apa pun akan bisa terkalahkan.

Prajurit Jagakarya

Prajurit Jagakarya berasal kata jaga dan karya. Kata 'jaga' berasal bahasa Sansekerta berarti 'menjaga', sedangkan 'karya' dari bahasa Kawi berarti 'tugas, pekerjaan'. Secara filosofis Jagakarya bermakna 'pasukan yang mengemban tugas selalu menjaga dan mengamankan jalannya pelaksanaan pemerintahan dalam kerajaan'.

Panji-panji/bendera/klebet/dwaja prajurit Jagakarya adalah Papasan, berbentuk empat persegi panjang dengan warna dasar merah, di tengahnya adalah lingkaran dengan warna hijau.

Papasan berasal dari kata nama tumbuhan atau burung papasan. Pendapat lain Papasan berasal dari kata dasar 'papas' menjadi 'amapas" yang berarti 'menghancurkan' (Wojowasito, 1977:190). Secara filosofis Papasan bermakna pasukan pemberani yang dapat menghancurkan musuh dengan semangat yang teguh.

Prajurit Prawiratama

Nama Prawiratama berasal kata prawira dan tama. Kata 'prawira' berasal dari bahasa Kawi berarti 'berani, perwira', 'prajurit', sedangkan "tama" atau "utama" bahasa Sansekerta yang berarti 'utama, lebih'; dalam bahasa Kawi berarti 'ahli, pandai'. Secara filosofis Prawiratama bermakna pasukan yang pemberani dan pandai dalam setiap tindakan, selalu bijak walau dalam suasana perang.

Panji-panji/bendera/klebet/dwaja Prajurit Prawiratama adalah Geniroga, berbentuk empat persegi panjang dengan warna dasar hitam, di tengahnya adalah lingkaran dengan warna merah. Geniroga berasal dari kata 'geni' berarti 'api', dan kata Sansekerta 'roga' berarti 'sakit'. Secara filosofis bermakna pasukan yang diharapkan dapat selalu mengalahkan musuh dengan mudah.

Sumber : Buku Prajurit Kraton Yogyakarta, Filososfi dan Nilai Budaya yang Terkandung di dalamnya, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Yogyakarta, 2008.
09:43

Candi Plaosan, A Wonderful Assemble of Temples in the Middle of Rice Fields

by , in
The complex is located to the east of Prambanan, in the Plaosan hamlet, village of Bugisan, Prambanan district, Klaten. To visit it you have to take the Jogjakarta-Solo highway, passing in front of the Prambanan temples, turn left (north), follow the road for for 2km. Take the right turn after a signpost indicating the temples, pass in front of the SPSP office and you will arrive at an intersection. Continue straight ahead and after 300m you will reach Plaosan Lor. You will be required to pay a contribution to enter. Plaosan Kidul is at the other side of the road, several meters to the south.

The Plaosan complex, 400x270m large, is constituted of a principal group and two sub-complexes at the north and the south. The first, Plaosan Lor, has two square courtyards, each containing a temple in a form similar to Candi Sari. Secondary temples and stupas, 58 of each, arranged in three tiers forming a rectangular complex, surround these courtyards. A specimen of each was reconstructed in 1941 and the two doors in 1945 and 1948. The second sub-complex, Plaosan Kidul, has one temple, 69 stupas and 18 secondary temples.

Plaosan like Prambanan and Sewu, makes an enormous complex of which we can, unfortunately, only approximate the function. Plaosan seems to have been a creation of a princess in the Sailendra dynasti, of Buddhist confession, who was married to a king of the Mataram dynasti, a Shivaist. The temple is thus the result of the pious cooperation and dates from the middle of the IXth century. An entourage has recently been discovered and you can see a fragment below, at the left side of the road about 20m away.

The two temples of the Plaosan Lor are oriented to the west and the doors that open to the ric fields are guarded by two large statues of Dwarpala that has always been sacred by the local villagers. The structure of the two sanctuaries is similar to that of the Sari temple; it has three chambers, each containing a statue on a plinth and we can observe the traces of an upward flight of stairs. By entering the first 9the one on the south side you will reach the central chamber whose altar is composed of two stone statues (boddhisattvas) surrounding an empty plinth, on which probably stood a Buddha in metal (bronze or silver).

At each side of this chamber, doors lead to other chambers containing representations of Dhyanis Buddha, Buddhist divinity of the Mahayana that has the task of saving all living creatures. The two statues are in lower level than of the center and has the right leg bent, delicately posed on a lotus, giving the impression of symbolizing the accessibilty of the bodhisattvas to its disciples. You will notice the extraordinary richness of the statue’s details, sitting on a lotus bed with other flowers jutting out from it, the number of gems representations of donators, priests, and pilgrims. A pasage enables a circumnavigation of the temple and you will see bas-reliefs representing bodhisattvas.

We reach the second temple, similar in form and motif, by a door in the entourage (at the north). Unfortunately, the statues of the second temple are in worse condition. Plaosan is made of andesite stones, while its enclosure and secondary temples are of white stones. Don’t miss the recently reconstructed stone terrace surrounded by secondary temples. The terrace is the base of third temple that undoubtedly was built of wood (the presence of pillar plinths). Numerous examples of the Javanese statuary art are present: Buddha, bodhisattvas, indo-Buddhist divinities, and so forth. Plaosan Kidul, discovered in 1941, stands in a state of ruins on the south side of the road and is undoubtedly an integral part of the complex.

Continuing to the north, you will see a series of modern buildings that are the Office of Archeological Services. The vast assemble of stones and statues are visible behind the railings belong to the complex, but also to other temples in the region.

Due to the presence of the courtyards, the local villagers believe that the rulers of the kingdom used the place as an area of cocklfighting. Until today they often hear the cries of the fighting cocks as well as the noise of the audience.

Source: Situs-Situs Marjinal Jogja (Sanctuaires Retrouvés/ Sites Out of Sight) - M. Rizky Sasono, Jean-Pascal Elbaz, Agung 'Leak' Kurniawan (Enrique indonesia, Yogyakarta: 1997).

09:36

Parangkusumo Beach, The Kingdom of the Queen of the South Sea

by , in
The Parangtritis and Parangkusumo beaches are about 27km tp the south of Jogjakarta. These beaches are very close to one another but the first is much better known and more often visited. Geographically these beaches are but the border with the Indian ocean, but for the Javanese people they have a significantly more important role. Like Merapi, these beaches have a major symbolic and mistic role. The ocean, Kraton, Merapi from in fact a perfect line, from the south to the north, which undoubtedly ,marked the spirit of the men who inhabit the place.

The Parangtritis beach is very easily accessible by all kinds of transport from the city. To reach the littoral composing the described site3s you will jave to pay a contribution.

To discover Parangkusumo, go for 1km after the booths and turn right (south); a sign will announce the beach. From the main road youn can reach the beach on motorbike or on foot. In the immediate surroundings you can also see the Sentono and Pemancingan hills.

Parangkusumo is located to the west of Parangtritis. It is a beaches of black sand and dunes that change with the wind. This site is one of three sacred places in the region with the Kraton and Mount Merapi. For ceremonies on the first of the Javanese month Suro (the Javanese New Year) and quite regularly during the year, offerings from the Kraton fore Nyi Roro Kidul, Queen of the South Seas, are made here. Off holidays, it is common to see people meditating on the beach to ask a favor or simply to pay homage to the one living in the waves, Nyi Roro Kidul.

Source: Situs-Situs Marjinal Jogja (Sanctuaires Retrouvés/ Sites Out of Sight) - M. Rizky Sasono, Jean-Pascal Elbaz, Agung 'Leak' Kurniawan (Enrique indonesia, Yogyakarta: 1997).
09:28

Ambarketawang, The Ruins of Hamengku Buwono I

by , in
The ruins of the Ambarketawang palace can be reached by the road that leads from Jogjakarta to Wates. At the 5th kilometer, or at the intersection after the Restaurant “Mbok Berek”, turn left (south) and follow the road for about 500m. A signpost to the ruoins stands 50m from it. The location can be reached by public transport up to the intersectiion and the rest can be covered on foot. Administratively the site is in the village of Ambarketawang, Gamping district, Sleman regency.

The ruins of the palace Of the Prince Mangkubumi—better known under the name Hamengku Buwono I (1749-1792)—dates from the XVIIIth century. What remains of the palace are a pendopo (reception hall) of 9x6m, 5m in height, oriented to the west, and walls at the south west sides, at some places reaching 2.5m high. The location, charmingly nestled in the middle of the plantation and coconut trees, is so shaded that the walls are covered with moss. Nearby, 50m from the pendopo, inside a house, we can see a piece of thick wall, supposedly a remnant of the palace’s stables.

A little further, 180m to the west of the pendopo, there are other ruins of walls and barriers, now an integral part of the house of a villager. The wall were used by the guards (demang) of the palace and the place is until now called Kademangan. According to reseachers, the remains of the palace of Hamengku Buwono I are not limited to the three ruins but spread throughout the village of Ambarketawang.

The palace is also mentioned in the Giyanti Treaty (1755) when the Mataram kingdom was divided in two: Kasunanan (Solo) and Kasultanan (Jogjakarta). Although the two families of the Mataram fought the same enemy, the Dutch, their internal quarrels were stronger. Ambarketawang was thus the first palace of the branch to be constructed by Hamengku Buwono I, after he left Kartosuro. Finally, 50m at the east of the pavilion, we can see an old well, 1.5 in diameter and 2m deep.

The well is believed to posess a particular virtue. It is said that, in the 1970s, many disabled persons went there to be healed. The first case was that of invalid villagers who asked to be taken to the well to tkae a bath. He was accompanied by a number of people wanting to wash at the same time. Great was their surprise at seeing the invalid not only walking but also running as if possessed. The same thing happened to a becak driver who was paralyzed after an accident. After washing himself with the water he regained his ability to walk.

Before this miracles, the inhabitants of the village witnessed one night a blinding light descending from the sky towards the well. During the Javanese month of Sapar, the villagers hold a cewremony called Bekakak, which consists of sacrificing a made-of-food wedding couple. The couple represents the devotion to the King, referring to the servants of the palace who remained loyal to Hamengku Buwono I to death.

Source: Situs-Situs Marjinal Jogja (Sanctuaires Retrouvés/ Sites Out of Sight) - M. Rizky Sasono, Jean-Pascal Elbaz, Agung 'Leak' Kurniawan (Enrique indonesia, Yogyakarta: 1997).

18:16

Makna Filosofis Warna pada Bregada Prajurit Keraton Yogyakarta

by , in
Warna dapat dipahami dalam tiga tingkatan. Pertama, adalah warna secara murni yaitu penggunaan warna untuk warna itu sendiri; kedua, adalah warna secara harmonis yang mengungkap kenyataan optis; ketiga, adalah warna secara heraldis atau simbolis.

Pada Prajurit Kraton Yogyakarta, warna akan dipahami secara simbolis. Sebagai simbol, warna dapat ditemukan antara lain pada pakaian dan bendera (klebet/dwaja). Warna-warna yang digunakan biasanya adalah warna-warna dasar, seperti putih, merah, kuning, hitam dan biru, serta hijau.

Dalam dunia simbolik Jawa terdapat istilah mancapat dan mancawarna. Segala sesuatu di dunia dibagi empat yang disebar di keempat penjuru angin dan satu di tengah sebagai pusat.

Warna juga dibagi empat atau lima. Warna hitam terletak di utara, sementara merah berada di selatan. Warna putih diletakkan di timur, dan barat memiliki warna kuning. Di tengah, sebagai pusat, adalah perpaduan dari berbagai warna tersebut. Masing-masing warna tersebut berasosiasi dengan berbagai hal, seperti sifat, dewa, bunga, serta benda-benda.

Berikut adalah makna beberapa warna yang terdapat pada prajurit Kraton Yogyakarta.

Warna Hitam, Wulung dan Biru

Warna hitam digunakan pada baju dan celana Manggala, baju dan celanaPandhega, baju prajurit Prawiratama, baju sebagian prajurit Nyutra, topi mancungan dari Prajurit Dhaeng.

Pada bendera prajurit Patangpuluh, warna ini menjadi dasar dari bendera Cakragora. Warna ini juga terlihat pada sebutan bendera Nyutra, yaitu Padma-sri-kresna. Kresna bukan saja nama tokoh pahlawan dalam pewayangan Mahabharata, melainkan juga warna hitam, seperti warna badan Sri Kresna.

Warna hitam adalah warna tanah, berkaitan dengan sifat aluamah Dalam masyarakat Jawa, warna ini dapat diartikan sebagai keabadian dan kekuatan.
Warna wulung, yaitu hitam keunguan, digunakan misalnya untuk blangkon prajurit Dhaeng atau untuk dodot yang dikombinasikan dengan warna putih.

Warnawulung dekat dengan warna hitam, sehingga bermakna sama.

Warna biru, digunakan secara terbatas misalnya pada lonthong prajurit Dhaeng(Jajar Sarageni, Jajar Sarahastra dan prajurit Dhaeng Ungel-ungelan). Makna dari penggunaan warna ini barangkali dekat dengan makna warna biru yang berkonotasi teduh dan ayom.

Warna hitam dalam pembagian secara simbolik di Jawa (mancapat) berasosiasi dengan arah utara, besi, burung dhandhang (semacam bangau hitam), lautan nila (berwarna indigo atau biru), hari pasaran Wage, serta dewa Wisnu (Soehardi, 1996; 309).

Warna Merah dan Jingga

Merah digunakan pada beberapa pasukan. Pasukan yang menggunakan warna merah paling dominan adalah Prajurit Wirabraja, yang menggunakan warna ini pada topi centhung, baju sikepan, celana, hingga srempang, endhong (yang sekarang).

Pasukan lain yang cukup dominan menggunakan warna merah adalah Dhaeng. Warna merah diterapkan pada hiasan di depan dada, ujung lengan baju, serta plisir pada samping celana. Prajurit Nyutra menggunakan warna merah pada baju tanpa lengan dan celana. Prajurit Ketanggung menggunakan kain merah sebagai pelapis baju.

Prajurit Patangpuluh menggunakan warna merah untuk pelapis baju serta rangkapan baju dan celana. Warna merah juga digunakan dalam kain cindhe yang dikenakan oleh berbagai pasukan prajurit.

Untuk bendera, merah digunakan sebagai motif hias pada bendera Gula-klapa, yang merupakan bendera Kraton Yogyakarta meskipun sekarang dibawa oleh bregadaWirabraja.

Merah sering dikonotasikan dengan keberanian (Brontodiningrat 1978: 15). Dalam hal ini, sesuai misalnya dengan sebutan Wirabraja untuk prajurit yang dikenal sebagai pemberani. Dalam kamus dinyatakan bahwa "wira" berarti 'kendel' (Poerwadarminta 1939: 664) atau 'berani' dan "braja" berarti 'gegaman' atau senjata.

Warna merah penting bagi kebudayaan-kebudayaan di Nusantara sejak lama. Lukisan dinding gua, juga penguburan pada masa Prasejarah menggunakan warna ini dari serbuk batuan hematit. Warna ini juga menemukan makna filosofisnya pada masa Hindu hingga dimodifikasi pada masa Islam yang diwujudkan antara lain dalam warna merah dari bendera Gula-klapa.

Warna jingga atau oranye digunakan untuk baju dalam prajurit Jagakarya. Warna ini jarang digunakan dan sering dimasukkan ke dalam warna merah. Oleh karena itu, warna ini memiliki makna pemberani, mirip dengan warna merah.

Dalam pembagian simbolik di Jawa (mancapat), warna merah berasosiasi antara lain dengan api, selatan, logam swasa -yaitu campuran antara emas dan tembaga-, burung wulong, lautan darah, hari pasaran Pahing, serta Dewa Brahma (Soehardi, 1996; 309).

Warna Putih

Warna putih digunakan oleh hampir semua prajurit dalam berbagai bentuk, terutama untuk bagian yang sekunder seperti baju rangkap, atau sayak.

Pasukan yang menggunakan warna putih secara dominan adalah prajurit Dhaeng dan Surakarsa. Kedua pasukan ini menggunakan warna putih untuk baju dan celana panjang. Sebagian lain menggunakan warna putih untuk celana panjang, yaitu prajurit Ketanggung dan Patangpuluh.

Warna putih juga digunakan sebagai warna dasar bendera Gula-klapa yang dibawa pasukan Wirabraja dan bendera Bahningsari dari Pasukan Dhaeng. Dua pasukan ini berada pada urutan depan dari barisan seluruh pasukan kraton jika sedang melakukan defile.

Di urutan bagian belakang, prajurit Mantrijero menggunakan warna putih sebagai bentuk bulatan di tengah hitam yang merupakan warna dasar bendera. Bendera ini disebut dengan Purnamasidhi, yaitu bulan purnama.

Di Kraton Yogyakarta, warna putih juga digunakan pada plak payung ampeyan KGPH atau Patih yang menyandang nama Pangeran (Isnurwindryaswari 2004:106).

Warna putih berdekatan makna dengan kebersihan atau kesucian. Hubungan antara putih dengan kesucian sudah berlangsung lama dalam sejarah kebudayaan.

Didalam struktur pemerintahan kerajaan-kerajaan di Jawa terdapat abdi dalem yang disebut Pamethakan. Istilah ini berasal dari bahasa Jawa yang berarti putih. Pakaian abdi dalem ini berwarna putih. Abdi dalem ini bertugas menangani hal-hal yang berkaitan dengan keagamaan.

Dalam pembagian warna secara simbolik di Jawa (mancapat), warna putih berasosiasi antara lain dengan arah timur, perak, burung kuntul (bangau), air, santan, haripancawala Legi, serta Dewa Komajaya (Soehardi, 1996; 308).

Warna Kuning dan Emas

Warna kuning tidak digunakan secara dominan pada prajurit kraton; hanya untuk hiasan, seperti hiasan lengan pada prajurit Nyutra. Warna kuning juga merupakan warna dasar dari bendera kedua regu pasukan Nyutra. Salah satunya adalah bendera Podhang Ngingsep Sari. Nama podhang berkaitan dengan warna bulu burung ini yang kuning.

Warna kuning bermakna keluhuran, ketuhanan, dan ketenteraman (Brontodiningrat, 1978; 15). Dalam upacara selamatan pada masyarakat Jawa, juga sering dihadirkan nasi kuning sebagai bagian dari sesaji. Hal ini merupakan simbol pengharapan akan keselamatan dari Tuhan yang Maha Kuasa.

Di Kraton Yogyakarta, warna kuning antara lain hadir pada warna plak payung yang digunakan oleh pangeran sentana, juga payung yang digunakan untuk menaungi makanan dan minuman yang dihidangkan untuk Sultan (Isnurwindryaswari, 2004; 110).

Dekat dengan warna kuning adalah warna emas. Warna kuning emas digunakan misalnya oleh prajurit Wirabraja untuk plisir pada topi centhung Panji, plisir pada baju sikepan Panji. Warna emas digunakan antara lain untuk membedakan antara Lurah dan prajurit Jajar, sebagaimana terlihat pada pasukan Patangpuluh, prajurit Jagakarya. Warna emas adalah lambang kemuliaan dan keagungan (Herusatoto, 1985; 95).

Warna emas (prada) mengandung makna kemuliaan dan kemakmuran yang dapat meningkatkan kewibawaan raja (Herusatoto, 1985; 95). Sebagai logam mulia, emas merupakan logam yang stabil, tidak mudah bereaksi terhadap unsur-unsur lain. Logam ini juga merupakan logam yang indah, mudah dibentuk, serta langka. Oleh karena itu, emas termasuk logam berharga.

Di Kraton, emas atau prada digunakan untuk mewarnai beberapa bagian bangunan, seperti umpak, tiang, dan sebagainya, untuk tempat-tempat yang disinggahi oleh Sultan. Selain itu, warna emas juga terdapat pada payung kebesaran Sultan, KanjengKyai Tunggul Naga (Isnurwindryaswari, 2004; 110). Banyaknya warna prada pada lambang-lambang kerajaan disebabkan karena warna ini menimbulkan kultus kemegahan (Moertono, 1985; 73).

Warna kuning dalam pembagian simbolik di Jawa (mancapat), antara lain berasosiasi dengan udara, arah barat, emas, burung podhang, lautan madu, hari Pon, serta Dewa Bayu (Soehardi, 1996; 309).

Warna hijau

Warna hijau, digunakan antara lain pada sayak Lurah prajurit Patangpuluh. Pada bendera, muncul pada warna bendera Pareanom, serta bendera Papasan. Warna kedua bendera ini meniru warna buah-buahan. Warna ini adalah simbol pengharapan (Brontodiningrat, 1978; 15).

Sumber : Buku Prajurit Kraton Yogyakarta, Filososfi dan Nilai Budaya yang Terkandung di dalamnya, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Yogyakarta, 2008.
18:32

Makna Filosofis dan Nilai Budaya Prajurit Keraton Jogjakarta

by , in
Pangeran Mangkubumi (Sri Sultan Hamengku Buwono I) sebagai pendiri Dinasti Mataram - Ngayogyakarta, adalah seorang ahli strategi perang, juga seorang arsitek, negarawan dan budayawan sejati.

Sri Sultan Hamengku Buwono I sangat memegang teguh akan pentingnya nilai historis maupun filosofis-religius yang dipercaya dapat berpengaruh pada sikap perilaku dirinya sebagai raja berpengaruh pada para kawulanya. Itulah sebabnya pada waktu negosiasi dengan Comm. Gen. N. Hartingh di desa Pedagangan, Grobogan tanggal 22 - 23 September 1754, Pangeran Mangkubumi bersikukuh letak Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat harus di Hutan Beringan, desa Pacethokan, diapit Sungai Code dan Sungai Winongo, di Utara ada Gunung Merapi dan di Selatan ada Samodra Indonesia.

Pemilihan letak pusat kerajaan sekaligus sebagai pusat pemerintahan tersebut tidak sekadar didasarkan atas pertimbangan fisik dan teknis semata. Justru pertimbangan faktor filosofi, religi dan budaya yang lebih dominan.

Pada waktu Sri Sultan Hamengku Buwono I menciptakan satuan prajurit Kasultanan sampai penempatan lokasi tempat tinggal prajurit yang menyerupai tapal kuda terhadap lokasi kraton Yogyakarta pun tidak lepas dari pertimbangan filosofis, teknis dan budaya.

Falsafah dasar yang diletakkan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I di dalam membentuk watak prajurit kraton adalah "Watak Ksatriya" atau "Wataking Satriya Ngayogyakarta' yang dilandasi dengan credo (sesanti) Sawiji, Greget, Sengguh, Ora Mingkuh.

Falsafah Sawiji (Nyawiji), Greget, Sengguh, Ora Mingkuh ini merupakan budaya ide Sri Sultan Hamengku Buwono I, kemudian dimanifestasikan dalam budaya perilaku. Sesanti ini dipegang sebagai falsafah hidup, pandangan hidup dan falsafah Joged Mataram.

Sebagai Falsafah Hidup

Sawiji artinya orang harus selalu ingat kepada Tuhan Yang Maha Esa. Greget berarti seluruh aktivitas dan gairah hidup harus disalurkan melalui jalan Allah SWT. Sengguh dimaknai sebagai harus merasa bangga ditakdirkan sebagai makhluk paling sempurna. Ora mingkuh artinya, meskipun mengalami banyak kesukaran-kesukaran dalam hidup, namun selalu percaya kepada Tuhan Yang Maha Adil.

Sebagai Pandangan Hidup

Sawiji diartikan konsentrasi yang harus diarahkan ke tujuan hidup atau cita-cita. Greget adalah dinamika dan semangat hidup yang harus diarahkan ke tujuan melalui saluran - saluran yang wajar. Sengguh artinya percaya penuh pada kemampuan pribadinya untuk mencapai tujuan. Ora mingkuh perlu dipegang erat-erat. Meskipun dalam perjalanan menuju ke tujuan (cita-cita) akan menghadapi halangan-halangan tetap tidak akan mundur setapakpun.

Sebagai Falsafah Joged Mataram

Sawiji artinya konsentrasi total tanpa menimbulkan ketegangan jiwa. Greget bermakna dinamis atau semangat yang membara di dalam jiwa setiap penari tidak boleh dilepaskan begitu saja, akan tetapi harus dapat dikekang untuk disalurkan ke arah yang wajar dan menghindari tindakan yang kasar. Sengguh itu percaya diri sendiri tanpa mengarah ke kesombongan atau pongah. Ora mingkuh sikap yang tidak lemah jiwa atau kecil hati, tidak takut menghadapi kesukaran - kesukaran dan mengandung arti penuh tanggung jawab.

Falsafah Sawiji, Greget, Sengguh, Ora Mingkuh dijadikan landasan pembentukan watak kesatriya yang pengabdiannya hanya ditujukan pada nusa, bangsa dan negara. Watak luhur berdasar idealisme dan komitmen atas kebenaran dan keadilan yang tinggi, integritas moral serta nurani yang bersih.

Kesatrya itu penampilannya dilengkapi dengan pakaian yang sering disebut dengan Baju Takwa. Baju Takwa dimaksud juga disebut dengan Pengageman Mataraman atau Surjan. Dalilnya adalah Al Qur'an, Surat Al A'raaf ayat 26, yang terjemahannya :"Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebagian dan tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat".

Pakaian takwa secara resmi merupakan pakaian identitas "Wong Ngayogyakarta" yang ditentukan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I beberapa waktu setelah perjanjian Giyanti ditandatangani.

Sumber : Buku Prajurit Kraton Yogyakarta, Filososfi dan Nilai Budaya yang Terkandung di dalamnya, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Yogyakarta, 2008.

My Instagram