Tampilkan postingan dengan label Press-Clippings. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Press-Clippings. Tampilkan semua postingan
17:41

ViaVia Travelers Cafe-Restaurant, Paduan Citarasa Timur dan Barat

by , in


ViaVia yang berada di Jalan Prawiritaman 30 Yogyakarta merupakan sebuah tempat yang berkonsep sharing atau meeting place berbagai budaya dari seluruh penjuru dunia. Dengan kata lain, sebagai tempat pertemuan orang-orang dari kebudayaan yang berbeda untuk saling tukar pendapat, tukar pengalaman, tukar ide, dan lain-lain.

ViaVia pertama kali dibentuk oleh beberapa orang Belgia. Setelah kelahiran ViaVia yang pertama di Belgia, kemudian munculah ViaVia lain yang sekarang sudah tersebar di 12 tempat di 4 benua. ViaVia di Jogja sendiri berdiri tahun 1995. Bermacam menu makanan tersedia di sini, baik yang bercitarasa lokal, internasional, maupun perpaduannya.

Selain sajian makanan, setiap ViaVia sebenarnya juga mempunyai aktivitas yang sangat khas, sesuai dengan budaya lokal masing-masing. ViaVia Jogja mempunyai aktivitas perjalanan wisata. Selain itu juga memberi kesempatan bagi para seniman untuk memamerkan karyanya, untuk pemutaran film, debat dan diskusi, dan lain-lain.

ViaVia Jogja menaarkan sejumlah menu unggulan, diantaranya: Aubergine Salad with Avocado and Pecorino Cheese, Middle Eastern Mezze with Calamari, dan Mixed beerboard.

Aubergine Salad with Avocado and Pecorino Cheese adalah kreasi dari sang pemilik ViaVia Jogja. Merupakan kombinasi dari tiga rasa, yaitu alpukat, aubergine atau terong, dan keju yang disajikan dengan sepotong roti tawar. Sang pemilik mencoba menyajikan citarasa keju pecorino yang kuat dan kelembutan rasa dari aubergine yang dimasak pan fried dengan sedikit minyak zaitun dan alpukat. Anda bisa merasakan citarasa yang unik ini dalam porsi appetizer atau main course.

Lalu Middle Eastern Mezze with Calamari. Sebagai tempat pertemuan berbagai budaya, ViaVia Jogja juga membuktikannya dalam beberapa menunya. Makanan khas Timur Tengah pun disajikan di sini. beberapa rangkaian masakan yang disajikan dalam satu piring dengan beberapa kondimen. Seperti calamari atau cumi goreng, cha pati atau adonan tepung yang dibakar, taboule, dan salad.

Semua itu disajikan dengan kondimen berupa hummus, terbuat dari chick pea yang dicampur bermacam herb dan yogurt. Ada pula olive tapenade; buah zaitun hitam yang dicampur dengan lemon, olive oil, dan sebagainya. Dan juga tzatziki, yaitu yogurt dan ketimun yang dicampur dengan garlic yang kuat.

Mixed beerboard adalah sajian yang banyak digemari para pelanggannya. Biasanya, sajian appetizer ini dijadikan teman menikmati beer. Dalam satu sajian berisi potongan-potongan tahu, tempe, singkong goreng yang lembut, dan tortilla chips atau keripik jagung. Sebagai kondimen atau sausnya adalah mustard, saus tomat manis atau tomat yang ditumbuk halus, dan sambal ala Indonesia. Inilah satu sajian yang menunjukkan taste tradisional dan internasional.

Sumber: Majalah Kabare, edisi Maret 2011.

19:31

Bebek Tepi Sawah (BTS) Ubud cabang Jogja, Menu Lokal Selera Internasional

by , in
Bebek goreng crispy, atau crispy duck adalah menu paling jagoan di restoran ini. Rasanya crispy atau renyah tanpa lemak. Daging bebeknya lembut begitu masuk di mulut. Bebek yang identik dengan aroma amis, tidak ditemui di menu ini. Disajikan bersama sayur kacang panjang khas Bali dengan padu padanan sambal matah dan irisan bawang merah, serai dan cabai rawit memanjakan selera kuliner penikmatnya.

Tidak heran jika menu yang dimiliki Bebek Tepi Sawah (BTS) Ubud ini tak hanya disukai lidah orang lokal saja, namun juga lidah bule. Kesan orang terhadap menu berbahan bebek identik dengan alot atau berbau amis. kesan itu juga yang muncul saat awal mula I Nyoman Sumerta mendirikan Bebek Tepi Sawah di Ubud, Bali tahun 1999.

Untuk meyakinkan pembeli, tidak jarang I Nyoman Sumerta memberikan jaminan, jika bebek yang menjadi menu di tempatnya alot atau konsumen tidak suka maka tidak perlu bayar.

Hasilnya, ternyata bukan hanya lidah orang Indonesia yang merasa cocok dengan masakan BTS, namun juga sesuai dengans elera wisatawan asing yang datang ke BTS di Ubud, Bali. Bahkan tidak sedikit, tamu-tamu yang berkunjung ke BTS hanya meminta menu bebek crispy ini meski di tempat ini banyak menu lain.

Pada September 2013, BTS di Ubud dikunjungi Miss World 2013. Bukan hanya berkunjung, mereka juga menikmati menu kuliner Bali ini. Efeknya luar biasa, semakin banyak bule-bule yang jatuh cinta dengan BTS. Bahkan sebuah situs travel internasional terkemuka pernah menempatkan restoran ini di ranking pertama dalam katagori restoran terbaik di Ubud.

"Ini membuktikan bahwa menu kuliner lokal atau asli Bali disukai dan memiliki cita rasa atau selera internasional," kata I Nyoman Sumerta. Tidak hanya wisatawan yang jatuh hati pada masakan BTS, bahkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono beserta keluarga pernah berkunjung ke retoran ini. Demikian pula keluarga besar mantan Presiden Soeharto, mantan Presiden Megawati, para selebritas nasioal maupun internasional.

Banyaknya permintaan masyarakat terhadap BTS agar membuka cabang di kota-kota lain, membuat BTS mengembangkan sayap membuka cabang di kota-kota besar di Indonesia, seperti jakarta, Tangerang, Surabaya, Makassar, Batam dan Yogyakarta, bahkan juga dari luar negeri yakni Singapura serta Malaysia.

I Nyoman Sumerta menjamin tidak ada perbedaan cita ras antara cabang dengan BTS Ubud. Hal ini selain bumbunya khas Bali, standar pelayanannya juga sama. Di Yogyakarta, meski baru soft-launching pada 19 April 2014 BTS Yogyakarta menjadi salah satu destinasi kuliner baru yang menarik warga Yogyakarta dan wisatawan baik dalam maupun luar negeri yang datang.

"Ada yang sampai nambah karena enaknya menu disini," kata Rahadi Saptata Abra. Komisaris BTS Ubud - Jogja. Selain cripsy duck atau bebek cripsy menu-menu lain diantaranya Bebek Betutu, Ayam Asap Goreng, Ayam PAnggang Tepi Sawah, Ayam Goreng, Steak serta menu-menu pendukung.

Sumber: harian Kedaulatan Rakyat, Rabu Pahing, 28 Mei 2014.

19:27

Bebek Tepi Sawah (BTS): Destinasi Baru Kuliner Jogja, Bukan Sekadar Soal Rasa

by , in
Bebek Tepi Sawah (BTS) Ubud cabang Jogja bisa disebut sebagai satu-satunya cabang yang paling memiliki kemiripan dengan BTS pusat di Ubud, Bali. Berada di Jalan Damai No. 78, Mudal, Sariharjo, Ngaglik, Sleman, retoran ini memiliki view lengkap tepi sawah yang menyatu menjadi bagian dari BTS Ubud cabang Jogja, sama seperti BTS Ubud Bali.

Yogyakarta sebagai kota budaya, pelajar, pariwisata juga menyandang sebagai kota Meeting, Insentive, Conference and Exhibition (MICE). Predikat tersebut bukan tanpa alasan. Di Yogyakarta banyak terdapat hotel dan gedung pertemuan memiliki standar MICE yang selalu siap menggelar berbagai kegiatan baik skala nasional maupun internasional.

Kehadiran BTS Ubud cabang Jogja juga menjadi destinasi baru yang bukan sekadar menjadi tempat tempat makan. Keberadaannya menjadi daya dukung bagi acara-acara MICE yang diadakan di Yogyakarta. "Pengalaman kami menyelenggarakan acara MICE, seringkali peserta kesulitan mencari tempat makan yang nyaman menurut standar kalangan menengah atau bahkan untuk tamu VVIP. Nah, BTS cabang Jogja hadir karena adanya kebutuhan itu," kata Eddy Purjanto, Direktur Utama PT. Amerta Caya Parama, perusahaan yang mengelola BTS Ubud - Jogja, sekaligus pemegang hak waralaba BTS Ubud untuk area DIY dan Jawa Tengah.

Belum ada satu bulan dibuka di Yogya, sudah ada 3 besar Indonesia yang membuktikan kenyamanan serta lezatnya menu di BTS Ubud Yogyakarta. Tiga duta besar tersebut yaitu Andri Hadi (Duta Besar RI untuk Singapura), Djauhari Oratmangun (Duta Besar RI untuk Rusia) dan Retno Marsudi (Duta Besar RI untuk Belanda).

"Jogja selalu dekat di hati, Bebek Tepi Sawah, membuat Jogja semakin lengket di hati. Dari sajian beraneka adonan bebek yang tiada tara rasany, pelayanan yang khas Jogja, suasana persawahan yang kental dengan hirupan udara segar. Ramuan yang membuat beta ingin selalu kembali. Selamat atas pembukaan Bebek Tepi Sawah Ubud cabang Jogja. Spasibo Bolshoi, from Russia with Love". Gebitulah pernyataan Dubes RI untuk Rusia Djauhari Oratmangun usai berkunjung dan menikmati menu di BTS Ubud cabang Jogja belum lama ini.

Bukan hanya Dubes RI untuk Rusia yang mendapatkan kesan tak terlupakan setelah berkunjung ke BTS Jogja, Dubes RI untuk Belanda Retno MArsudi menyebut BTS sebagai 'Makanan tradisional dengan rasa dan penyajian kelas internasional".

Dubes RI untuk Singapur Andri Hadi menyatakan Yogyakarta menjadi salah satu favorit destinasi wisata bagi warga Singapura karena menawarkan keindahan baik dari segi budaya, obyek wisata yang menarik surga belanja dan wisata kuliner.

"Kehadiran BTS Ubud cabang Jogja memberikan daya tarik tersendiri karena pengunjung dapat menikmati sajian utama bebek goreng yang lain dari yang lain. Dengan kualitas rasa dan mutu, serta penyajian berstandar internasional serta harga yang relatif terjangkau, resto Bebek Tepi Sawah akan menambah menariknya Yogyakarta sebagai ikon wisata kuliner tidak hanya bagi turis mancanegara dari Singapura namun juga turis domestik tidak perlu ke Bali untuk menikmati cita rasa bebek yang unik ini," papar Andri Hadi panjang lebar saat berkunjung ke BTS Ubud cabang Jogja belum lama ini.

Salah satu nilai lebih BTS cabang Jogja selain soal rasa juga higeinisitas. Menyadari bahwa BTS Ubud memiliki standar tinggi dalam pelayanan, bahan baku terbaik, cara memasak yang didukung dengan fasilitas dapur berstandar hotel berbintang, hingga hidangan sampai di meja konsumen menjadi perhatian. Embel-embel internasional, bukan hanya soal rasa namun semua aspek yang terkait.

Beroperasi mulai pukul 10.00 hingga last order pukul 22.00, BTS Ubud cabang Jogja memiliki kapasitas 148 seat dengan konsep terbuka serta memiliki interior khas Bali. Lokasi ini juga memungkinkan digunakan untuk rapat-rapat informal atau menjamu kolega penting karena ada beberapa bangunan yang dibuat terpisah. sambil menikmati menu khas Bali pengunjung bisa menikmati nuansa tradisional yang eksotis karena lokasinya di tepi sawah. Bagi yang ingin datang untuk merasakan cita rasa menu di BTS Ubud cabang Jogja ini tidak ada salahnya untuk melakukan reservasi terlebih dulu untuk menghindari tidak mendapatkan kursi karena penuhnya pelanggan.

Sumber: harian Kedaulatan Rakyat, Rabu Pahing, 28 Mei 2014.

19:45

Gudeg Mercon Bu Tinah di Kranggan

by , in
Gudeg buatan Bu Tinah ini boleh dibilang cukup ekstrim. Rasa yang melekat kuat di lidah bukanlah gurih-manis seperti gudeg original khas Jogja.

Gudeg super pedaslah rasa yang coba ditawarkan Bu Tinah. Kalau Anda pernah menjajal sensasi oseng-oseng mercon yang juga banyak dijual di seputaran Jogja, di warung inilah Anda mendapatkan sensasi rasa baru, yaitu gabungan keduanya.

Gudeg basah khas Jogja yang gurih-manis dicampur dengan oseng-oseng tempe lombok ijo yang cukup pedas. Anda yang menggilai menu pedas, sajian gudeg mercon Bu Tinah ini recommended.

Di saat lapar mengetuk-ngetuk di malam hari, segeralah meluncur ke Jl. Asemgede, Kranggan. Di situ Anda akan menemukan sebuah warung sederhana berpayung lembaran terpal yang mulai buka pukul 21.00. Di situ pula, Anda dapat mengisi perut dengan menu gudeg kreasi baru racikan Bu Tinah.

Sambil bersila di badan trotoar, Anda akan sekaligus merasakan dobel romantisme Jogja; menu legendaris kreasi baru, plus nuansa hangat bersahabat kota gudeg di malam hari.

Sumber: Majalah Kabare, edisi Desember 2012 (Teks: FA Herru, foto: Albert)
16:47

Sensasi Soto di Pojok Pasar Beringharjo

by , in
Kalau sekali waktu Anda ke Malioboro, cobalah cari warung soto daging sapi Pak Mul. Di sini Anda akan mendapatkan sensasi yang berbeda.

Di tengah ramainya orang-orang berseliweran menyusur lorong pertokoan di Malioboro dan yang hendak berbelanja di Pasar Beringharjo, Anda menyantap soto daging sapi panas.

Warung yang berdiri tahun 1985 ini berlokasi di pojok utara pasar Beringharjo. Warung ini hanya menempati bagian pojok gedung pertokoan yang berukuran kira-kira 2,5 x 2 meter. Hanya ada dua meja panjang di samping kanan dan kiri, dan satu bangku kayu panjang di tengahnya.

Kalau penuh pengunjung, Anda harus duduk beradu punggung dalam satu bangku dengan pengunjung lain. Di situ maksimal hanya bisa ditempati delapan orang. Kalau selesai menyantap dan ingin keluar, Anda pun harus permisi lebih dulu kepada pengunjung lain, agar mereka bersedia menyingkir sebentar supaya Anda bisa lewat.

Meski tampak kurang nyaman, tapi justru di situlah letak sensainya. Menyantap soto panas di ruang sempit. Karena suasana yang begitu, warung ini justru banyak jadi jujugan pelancong. Mereka yang dulu pernah sekolah di Jogja dan menjadi pelanggan pun tak kemudian melupakan jika suatu saat kembali ke Jogja. Mereka pun kemudian menamainya warung “Soto Sempit”.

Soto daging sapi Pak Mul segar dan sedap. Dalam semangkuk berisi nasi, daging sapi, dan babat. Harganya pun tak mahal, hanya 7.000 rupiah semangkuk. Warung ini buka setiap hari, dari pukul 09.00 – 16 00.

Sumber: Majalah Kabare, edisi Maret 2011.

14:29

“Singing On The Darkness”, Pameran Tunggal Patung Karya Dunadi

by , in



Mulut manusia menganga lebar, mengeluarkan banyak binatang yang berlarian seolah ketakutan. Menjauh dari mulut itu, dan bergerak keluar mencari kebebasan dari gelapnya keadaan.

Keberadaan manusia kini dipertanyakan. Komunikasi antarmanusia tak lagi digubah sebagai bentuk ruang etik atau sebagai penghormatan bersama. Justru yang muncul adalah ‘kegelapan’ tutur yang penuh dengan intimidasi.

Itulah manusia, disulut sedikit saja, api besar dan sumpah serapah akan muncul dari dalam diri manusia. Ada jiwa yang mencengangkan ditengah kelembutan manusia. Hasilnya, adalah teriakan gusar yang tak mampu dibendung seperti binatang yang lari ketakutan dan tak mampu lagi hadir dibenak manusia yang mengalami perubahan.

Itulah gambaran dari salah satu patung mulut manusia yang menganga lebar dalam pameran tunggal Dunadi bertajuk “Singing On The Darkness” di Jogja Galerry 10 Desember lalu.

Selama 20 tahun berkiprah menjadi seniman patung dengan karya-karya patung gigantik nya, namun inilah pertama kalinya ia mengadakan pameran tunggal. Tak mudah memang bagi seniman untuk dapat mengadakan pameran tunggal atas hasil karyanya.

Butuh waktu lama dan persiapan yang matang. Tapi Dunadi membuktikannya. Dan Kota Jogja, khususnya Jogja Gallery tentu akan mencatat peristiwa penuh sejarah dalam hidup seniman asal Bantul ini.

“Puluhan objek dalam wujud binatang dalam berbagai ukuran ini juga bukan semata simbol tunggal yang hanya mengungkapkan persoalan binatang itu sendiri. Akan tetapi, eksistensi binatang telah mencapai puncaknya sebagai kemarahan manusia”. Itulah yang disampaikan Mike Susanto, Kurator pameran yang juga menghadiri acara pembukaan pameran di Jogja Galerry malam itu.



Gagasan Dunadi dalam menciptakan karya-karya patung selama ini memang bersentuhan dengan suasana multi krisis masyarakat indonesia. Memiliki fungsi sosial atau pengingat peristiwa dan pengidentifikasi krisis massa. Keberhasilannya sebagai seniman patung murni yang memiliki spirit kritis, juga tak lepas dari peran Edhi Sunarso, Seniman senior yang karya-karya nya telah dikenal masyarakat dunia.

Di bangku kuliah, Edhi pula lah yang selalu mengajarkan kepadanya untuk selalu berkarya dengan selalu berpegang terhadap konsistensi aliran yang telah dianutnya sekarang.

“Dunadi adalah murid saya satu-satunya yang berhasil menunjukkan konsistensinya untuk berjalan dan menjadi seniman dengan aliran realis yang saya ajarkan dulu. Dan merupakan kebanggaan bagi saya melihat murid saya sekarang mampu mengadakan pameran tunggal. Saya pun berharap untuk seniman masa sekarang untuk memiliki sikap tidak cepat puas atas apa yang diraih”, jelas Edhi usai pembukaan pameran.

Sumber: Majalah Kabare, edisi Januari 2011 (Teks: Dwi Kurnia, foto: Albert).

13:56

Menguak Tradisi Batik Gentongan Madura

by , in


Sebuah pameran Batik dari Pulau Madura dengan tema, “Menguak Tradisi Batik Gentongan” diselenggarakan di Museum Tekstil Jakarta. Pameran ini merupakan hasil kerja sama Museum Tekstil, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta bersama Dekranasda Provinsi Jawa Timur, Dekranasda Kabupaten Bangkalan dan Bupati Bangkalan.

Batik Madura dapat digolongkan sebagai batik pesisiran, seperti halnya batik Cirebon, Indramayu, Pekalongan, Lasem dan Tuban. Persamaan yang menjadi ciri khas dari batik pesisiran adalah dalam penggunaan warna yang cerah dan dinamis. Corak ragam hias batik pesisir biasanya diilhami oleh flora, fauna serta lingkungan sekitar.

Pulau Madura dikelilingi laut sehingga sumber laut seperti ikan, kapal / perahu menjadi corak yang khas batik-batik Madura. Pewarnaan yang kontras dan tegas dipengaruhi oleh alam lingkungan dan masyarakat Madura yang dikenal kebraniannya mengarungi laut.

Dalam bukunya Nian Djumena menuliskan ada dua wilayah batik Madura yang secara tradisional mempunyai kemahiran membatik yang diwariskan turun temurun dari satu generasi ke generasi berikutnya. Yakni, wilayah batik di daerah pantai (seperti Tanjungbumi, Paseseh, Telagabiru) dan wilayah batik di pedalaman (seperti Sampang, Pamekasan, Sumenep).



Dalam hal corak motif setiap daerah pembatikan di wilayah Madura sendiri mempunyai cirri khasnya masing-masing. Corak ragam hias batik dari daerah pedalaman seperti Sampang, Pamekasan dan Sumenep, coraknya banyak dipengaruhi oleh batik tradisional Solo dan Yogyakarta.

Batik Madura seperti halnya batik pesisiran lainnya, mendapat pengaruh dari daerah luar Madura, antara lain dalam ragam hias lar-sayap garuda, ragam hias Sekar Jagad, Pisang Bali, ragam hias buket pengaruh Belanda, ragam hias naga dan burung hong pengaruh dari Cina.

Ciri ragam hias atau motif batik Madura pada umumnya tegas, ekspresif, naturalis, motif yang tampak seperti apa yang dilihat kemudian langsung dituangkan dalam gambar. Ciri khas yang lain dari Batik Madura adalah tidak ada batik cap, mereka membatik langsung dengan menggunakan canting.

Sumber: Majalah Kabare, edisi Januari 2011

16:30

Rumah Sleman Private Boutique Hotel, Pesona Kemewahan Aristokrat

by , in
Pernah berkunjung ke Kraton Yogyakarta atau Kraton Kasunanan Solo? Kalau jawabannya pernah, berarti Anda dapat membayangkan bagaimana mewahnya desain interior dan eksterior istana-istana kerajaan zaman dahulu.

Keraton dalam dinamika masyarakat Jawa memang menjadi pusat panutan budaya. Termasuk di dalamnya soal perangkat furniture pengisi ruangan. Meja, kursi, almari, dipan, dan sebagainya menghadirkan sebuah kemewahan aristokrat yang begitu indah. Di dalamnya juga tersimpan beragam makna yang begitu brilian.

Kemewahan ala bangsawan kerajaan Jawa inilah yang menjadi sajian utama di Rumah Sleman Private Boutique Hotel, Mlati, Sleman, Yogyakarta. Keindahan arsitektur, desain dan dekorasi kamar yang memiliki sentuhan Jawa dan gaya kolonial Belanda menjadi daya tarik tersendiri bagi keberadaan boutique hotel ini.

Awalnya, bangunan berbentuk rumah joglo ini merupakan rumah tinggal yang dibangun oleh Darah Dalem Keraton Kasunanan Surakarta pada tahun 1814 di Kampung Sewu, Solo. Bangunan ini kemudian dipindahkan ke Desa Warak.

Di penginapan ini terdapat bermacam-macam furniture klasik warisan leluhur yang begitu mempesona. Paling istimewa adalah sebuah kursi dan almari kuno peninggalan Paku Buwono X dari Surakarta. Selain itu, sejumlah perabot rumah tangga klasik lainnya juga turut dipajang sebagai pelengkap citra kemewahan aristokrat tersebut.

Sumber: Majalah Kabare, edisi Januari 2011 (Teks: Singgih Wahyu N., foto: Budi Prast).

14:12

Aksesoris Bergaya Etnik nan Cantik

by , in


Aksesoris bergaya etnik nan cantik dan elegan kerap dicari para pencinta aksesoris. Meski modelnya mengadaptasi dari gaya kolonial Jawa, namun ketika dipadukan dengan sentuhan modern, aksesoris etnik ini pun menjadi tak lekang zaman.

Mengenakan aksesoris telah menjadi sebuah gaya hidup tersendiri kaum urban masa kini. Aksesoris semakin lama sepertinya sudah memegang peranan penting bagi penampilan si pemakai. Dan kini, dia tak hanya sekadar menjadi pelengkap busana tetapi juga bisa menampilkan jati diri hingga suasana hati sang pemakai. Dia bukan lagi sebagai pelengkap busana semata namun menjadi penunjang penampilan Anda.

Semakin banyak toko atau butik aksesoris bermunculan, rupanya membuat para fashionista dapat dengan mudah memilih serta memadupadankan antara busana yang akan dipakai dengan berbagai aksesoris penunjang gaya berpakaian. Berbagai model aksesoris cantik, mulai dari rantai-rantai dengan gaya etnik, aneka gelang, kalung, hingga bros yang dibuat dari kristal swarovsky, dapat juga membuat penampilan Anda semakin modis, cantik, dan elegan.



Model Aksesoris Aristokrat Jawa

Mungkin tak banyak yang tahu jika aksesoris sudah mulai digemari sejak zaman raja-raja Jawa masih berkuasa. Sebuah buku karangan dari John N. Miksic berjudul Old Javanese Gold banyak menceritakan seluk-beluk emas di Jawa, peran dan pemanfaatannya, sejak zaman prasejarah hingga awal abad ke-15, sebelum Islam masuk.

Seperti Power and Gold, buku ini juga katalogus koleksi Hunter Thompson, di Singapura, yang sebagian besar berupa perhiasan emas Jawa. Pengarangnya, John Miksic, adalah seorang arkeolog yang mengkhususkan diri dalam penelitian peradaban klasik Asia Tenggara. Perhiasan memang bisa merupakan suatu obyek penelitian tersendiri.

Sedangkan Susan Rodgers, seorang antropolog dari Amerika, dalam Power and Gold mengungkapkan, misalnya, bahwa, berbeda dengan di Barat, di Asia Tenggara perhiasan tradisional tidak sekadar berperan sebagai penghias tubuh, investasi, atau simbol status, tapi juga sarana wajib dalam upacara-upacara tertentu yang menandai peralihan dalam hidup, antara lain waktu menikah atau meninggal.

Hal ini tentunya sangat berkaitan dengan perilaku masyarakat dalam kebudayaan Jawa kuno, perhiasan yang didominasi dan terbuat dari emas itu tidak hanya berperan sebagai penghias tubuh, investasi, atau simbol status. Dia juga sebagai mata uang dan sarana ritual keagamaan.

Berbeda dengan Susan, John Miksic membahas perhiasan (emas) di Jawa dari sudut sejarah. Dalam kebudayaan Jawa kuno, emas tidak cuma dipakai untuk perhiasan. Ia juga dipakai sebagai mata uang, dan sarana ritual keagamaan. Banyak yang menarik dari kajian Miksic. Antara lain, kita dapat menyimak peralihan keterampilan dan teknik masyarakat Jawa dalam mengolah emas.

Emas telah diolah di Indonesia sejak zaman prasejarah. Sebelum digunakan sebagai perhiasan, dalam bentuk yang sederhana (tanpa dipanaskan, hanya lewat proses penempaan), ia telah digunakan sebagai penutup mata, hidung, dan mulut jenazah. Lalu berkembang menjadi penutup wajah jenazah (death mask).

Pada jaman Kerajaan Kuno Mataram pun, perhiasan sudah mulai dikoleksi. Hingga saat ini beberapa diantaranya pun masih tersimpan baik di Keraton Yogyakarta. Salah satunya adalah perhiasan pusaka yang dipakai oleh GKR Pembayun pada hari pernikahannya. Perhiasan tersebut berupa pethat gunungan, lima buah cunduk menthul yang dipasang di kepala, centhung, subang ronyok, sangsangan susun tiga, cincin, binggel, kelat bahu, dan pending. Model-modelnya pun sangat kental dengan gaya aristokrat khas kerajaan Jawa masa silam yang kaya akan detail namun elegan.

Model etnik semacam itu, kini kembali populer. Menurut Miksic, para perajin perhiasan dan aksesoris biasa membuat manik-manik dengan menggabungkan antara emas, perak, tembaga dengan kawat dan rantai. Perhiasan yang bersifat klasik inilah yang memiliki model abadi dan tahan akan perubahan zaman.



Tren Aksesoris Gaya Etnik

Di zaman sekarang, aksesoris bergaya etnik kembali digemari oleh masyarakat. Sudah banyak desainer perhiasan yang mengangkat model ini sebagai tren aksesoris. Kebanyakan tidak lagi dibuat dari emas, melainkan tembaga. Tujuannya jelas, aksesoris ini bisa dipakai siapa saja tanpa melihat kasta. Aksesoris dari tembaga memang terlihat etnik, modis, lebih elegan, dan mungkin satu-satunya model yang tak lekang zaman.

Berbagai model aksesoris etnik mulai dari gelang, cincin, kalung, bros hingga anting tak jarang menarik minat masyarakat untuk mengkoleksi. Tak hanya itu, desainer sekelas Emporio Armani pun kini mengeluarkan rancangan aksesorisnya yang bernuansa klasik.

Tahun 2011 ini akan menjadi musimnya perhiasan tebal dan besar. Berbagai model kalung besar, anting-anting chandelier panjang dan cincin bermata besar akan mendominasi. Warna-warna perak, perunggu, emas dan kuningan akan kembali populer karena sangat cocok dipadupadankan dengan busana kasual sehingga dapat mempercantik penampilan sehari-hari.

Salah satu yang paling digemari kaum hawa saat ini adalah perhiasan perak bakar. Kebanyakan aksesoris ini dilengkapi dengan batu berwarna-warni. Umumnya, aksesoris ini diminati karena modelnya yang klasik namun berkesan mewah. Perhiasan berbahan dasar perak asli ini diproses dengan pembakaran pada suhu tertentu sehingga dapat menghasilkan warna yang indah. Aksesoris ini sering menjadi pilihan alternatif para wanita karena ketahanan warna yang relatif lebih lama dibanding bahan lain.

Menurut Rima, asisten manajer Jolie Accessories, tema aksesoris bernuansa etnik tak akan pernah mati meski diprediksi tren aksesoris 2011 akan lebih banyak menampilkan hiasan bulu-bulu indah. Menurutnya, aksesoris etnik juga tetap digemari.

Toko yang berlokasi di Jalan Diponegoro 110 Yogyakarta ini, selain menjual berbagai bahan dan aksesoris jadi, ternyata juga mulai mengembangkan berbagai kursus membuat aksesoris untuk para pelanggannya. Dengan itu, Anda atau pelanggan bisa membuat sendiri model sesuai selera.

“Banyak juga yang tertarik belajar membuat aksesoris. Tentunya berbeda dan kreasi sendiri. Kami di sini menyediakan para pelatih yang sudah profesional,” ujarnya kepada Kabare.

Namun, bagi pelanggan yang ingin kursus secara privat juga dilayani dan dikenakan biaya sebesar Rp. 25.000,- saja untuk waktu selama dua jam. Mereka pun bisa memilih, mau mengambil kursus membuat apa saja termasuk aksesoris bergaya etnik. Anda tertarik?

Sumber: Majalah Kabare, edisi Januari 2011 (Teks:Della Yuanita, foto: Budi Prast).

13:19

Lezatnya Nasi Liwet Bu Wongso Lemu

by , in


Belum lengkap rasanya ke Solo kalau belum menikmati nasi liwet, masakan khas kota Bengawan ini. Sama seperti Jogja, Solo juga banyak memiliki kuliner klangenan. Menikmati nasi liwet sama dengan mencicip kembali kelezatan kulineri tempo dulu.

Tidak saja rasa dan aroma, tapi cara penyajiannya pun mengingatkan keistimewaan masa lalu Kota Solo. Nasi liwet adalah nasi putih yang ditanak dengan santan, kaldu ayam, lalu diberi sedikit garam agar menjadi gurih dan daun pandan untuk menambah sedap aroma. Sebagai pelengkapnya, sambal goreng labu siam dan daging ayam dimasak ungkep; direbus dengan bumbu, kemudian diangkat dan ditiriskan. Kemudian disajikan dalam sebuah pincuk, wadah yang dibuat dari daun pisang, yang salah satu bagiannya ditekuk dan disemat dengan lidi.

Nasi liwet bisa ditemui di berbagai sudut kota Solo. Namun ada warungnya yang sangat kondang dan melegenda. Yaitu warung Nasi Liwet Bu Wongso Lemu. Dirintis sejak 1951, warung ini menjadi langganan warga. Konon, tak jarang mendiang Pak Harto, mantan presiden RI ke-2, dawuh ajudannya untuk membelikan nasi liwet di warung itu untuknya.

Nasi liwet Wongso Lemu kini dikembangkan oleh keturunannya. Tak kurang lima warung nasi liwet ada di ruas Jalan Teuku Umar, Keprabon, dekat jalan protokol Slamet Riyadi. Warung-warung ini milik klan Wongso Lemu yang sudah melegenda itu.

Sumber: Majalah Kabare, edisi Januari 2011 (Teks: FA Herru, foto: Albert).

13:42

Foie Gras ala Paprika Restaurant Hotel Phoenix Yogyakarta

by , in


Prancis tak hanya termasyhur karena keberadaan menara Eiffel di Kota Paris. Negeri asal Napoleon Bonaparte ini juga dikenal memiliki ragam kuliner yang khas, elegan, dan bercitarasa tinggi. Masakan Prancis yang didominasi penggunaan wine, krim mentega, serta aneka ragam saus, sudah begitu kondang sejak lama.

Foie gras yang berarti hati berlemak, salah satunya. Ini adalah masakan eksklusif dari Prancis. Foie gras terbuat dari hati angsa yang dimasak dengan bumbu-bumbu spesial, di antaranya Porto wine dan lemak angsa untuk dapat menambah aroma sangat sedap dan khas.

Dalam kultur masyarakat Prancis, menu ini biasanya hanya disantap sekali dalam setahun, yaitu ketika menyantap makanan saat merayaan Natal. Meski terkenal sebagai sajian khas Prancis, santapan hati angsa ini pertama kali muncul justru di Mesir. Orang-orang Bulgaria pun tercatat telah membuatnya sejak 2000 tahun lalu.

Untuk menikmati foie gras, tentu Anda tak perlu terbang ke negeri romantis itu. Di kota-kota besar di Indonesia, seperti Jakarta, pun ada restoran yang menyediakan menu-menu khas Prancis. Di Yogyakarta, foie gras dapat Anda santap di Paprika Restaurant Hotel Phoenix Yogyakarta. Hotel ini menyediakan tiga menu foie gras; yaitu foie gras cappuccino, foie gras artichokes, dan our legendary foie gras ravioli.



  • Foie gras cappuccino: Kelezatan hati angsa yang disajikan dengan segarnya nanas dan apel. Ditambah juga dengan lembutnya foam milk dan truffle oil.
  • Foie gras artichokes: Hati angsa yang disajikan dengan artichoke organik goreng renyah, ditambah saus apel caramel dan rasberry.
  • Foie gras ravioli: Inilah menu legendaris sajian Hotel Phoenix. Sajian ravioli yang diisi hati angsa dan disajikan di atas jamur dan truffle oil saus.

Sumber: Majalah Kabare, edisi Januari 2011.

13:20

Misteri Candi Borobudur, Ceplok Teratai di Danau Purba

by , in
Boleh percaya, boleh tidak: Candi Borobudur ternyata dibangun di atas sebuah danau purba. Dulu, kawasan tersebut merupakan muara dari berbagai aliran sungai. Karena tertimbun endapan lahar kemudian menjadi dataran. Pada akhir abad ke VIII, Raja Samaratungga dari Wangsa Syailendra lantas membangun Candi Borobudur, dipimpin arsitek bernama Gunadharma, selesai tahun 746 Saka atau 824 Masehi.

Hasil kajian geologi yang dilakukan Ir Helmy Murwanto MSc, Ir Sutarto MT dan Dr Sutanto dari Geologi UPN 'Veteran' serta Prof Sutikno dari Geografi UGM membuktikan, keberadaan danau di kawasan Candi Borobudur memang benar adanya. Penelitian itu dilakukan sejak 1996 dan masih berlanjut sampai sekarang. Bahkan, tahun 2005, penelitian tentang keberadaan danau purba itu oleh Dinas Pertambangan dan Energi Propinsi Jawa Tengah, CV Cipta Karya dan Studio Audio Visual Puskat, dibuat film dokumenter ilmiah dengan judul 'Borobudur Teratai di Tengah Danau'.

Hipotesa kawasan Candi Borobudur merupakan danau, pertama dikemukakan seniman-arsitek Belanda, Nieuwenkamp, tahun 1930. Dalam bukunya berjudul 'Fiet Borobudur Meer' (Danau Borobudur), dikemukakan, Candi Borobudur diimajinasikan sebagai Ceplok Bunga Teratai di tengah kolam. Kolam tersebut berupa danau. Karena morfologi di sekitarnya dikelilingi pegunungan Menoreh dan gunung api.

"Tapi hipotesa itu dianggap ilusi belaka oleh Van Erp, yang memimpin pemugaran Candi Borobudur pada tahun 1907-1911. Bahkan dianggap sebagai pendapat yang ngayawara, karena tidak didukung bukti-bukti kuat seperti prasasti tentang adanya danau di kawasan itu," kata Helmy kepada KR di Laboratorium Mineralogi dan Petrologi UPN 'Veteran' Yogya.

Hipotesa itu pada akhirnya menarik perhatian para ahli dari berbagai disiplin ilmu. Tak terkecuali Helmy dan kawan-kawan. Sebagai orang geologi yang berasal dari Muntilan, Helmy merasa tertantang untuk melakukan
penelitian serupa sejak 1996. "Yang kita teliti adalah endapan lempung hitam yang ada di dasar sungai sekitar Candi Borobudur yaitu Sungai Sileng, Sungai Progo dan Sungai Elo," katanya.

Setelah mengambil sampel lempung hitam dan melakukan analisa laboratorium, ternyata lempung hitam banyak mengandung serbuk sari dari tanaman komunitas rawa atau danau. Antara lain Commelina, Cyperaceae, Nymphaea stellata, Hydrocharis. "Istilah populernya tanaman teratai, rumput air dan paku-pakuan yang mengendap di danau saat itu," katanya.

Penelitian itu terus berlanjut. Selain lempung hitam, fosil kayu juga dianalisa dengan radio karbon C14. Dari analisa itu diketahui endapan lempung hitam bagian atas berumur 660 tahun. Tahun 2001, Helmy melakukan
pengeboran lempung hitam pada kedalaman 40 meter. Setelah dianalisis dengan radio karbon C14 diketahui lempung hitam itu berumur 22 ribu tahun. "Jadi kesimpulannya, danau itu sudah ada sejak 22 ribu tahun lalu, jauh sebelum Candi Borobudur dibangun, kemudian berakhir di akhir abad ke XIII," katanya.

Kenapa berakhir, kata Helmy, karena lingkungan danau merupakan muara dari beberapa sungai yang berasal dari gunung api aktif, seperti Sungai Pabelan dari Gunung Merapi, Sungai Elo dari Gunung Merbabu, Sungai Progo dari Gunung Sumbing dan Sindoro. Sungai itu membawa endapan lahar yang lambat laun bermuara dan menimbun danau. Sehingga danau makin dangkal, makin sempit kemudian diikuti dengan endapan lahar Gunung Merapi pada abad XI. Lambat laun danau menjadi kering tertimbun endapan lahar dan berubah menjadi dataran Borobudur seperti sekarang.

Menurut Helmy, pada saat dilakukan pengeboran, endapan danaunya banyak mengeluarkan gas dan air asin. "Tapi lambat laun tekanannya berkurang, dan sekarang kita pakai sebagai monumen saja," katanya.

Ditargetkan, pada penelitian berikutnya akan diteliti luasan danau kaitannya dengan sejarah perkembangan lingkungan Borobudur dari waktu ke waktu, mulai air laut masuk sampai laut tertutup sehingga berkembang menjadi danau, kemudian danau menjadi rawa dan menjadi dataran.

Sumber: Harian Kedaulatan Rakyat, 6 Februari 2007.
19:14

Musim Tebu Berakhir di Gondang Baru

by , in
Musim giling tebu berakhir lebih cepat di Gondang Baru. Siang pada awal Oktober itu, ketika sebagian besar pabrik gula di Jawa masih melakukan aktivitas, tidak terlihat truk-truk pengangkut tebu yang antre masuk ke emplasemen pabrik yang berlokasi di tepi jalan utama Yogyakarta-Solo.
Cerobong besar pabrik telah berhenti mengepulkan asap sisa pembakaran ampas. Roda-roda raksasa penggerak mesin giling diistirahatkan.

Senin (5/10) siang itu, empat pekerja bersama-sama berusaha mengangkat salah satu roda mesin giling dari dudukannya. ”Pabrik ini seperti sengaja dibuat fosil hidup. Dibiarkan tidak diubah sama sekali supaya orang tahu bagaimana pabrik gula dari zaman Belanda,” ujar Sutrisno, salah seorang pekerja.

Para petugas pabrik menggunakan cara kanibal untuk memperbaiki mesin. Suku cadang peralatan mesin mengambil mesin-mesin lama yang sudah tidak dipakai. Suiker Fabrik Gondang Winangoen didirikan oleh Pemerintah Hindia Belanda pada 1860. Setelah sempat dijadikan gudang senjata pada zaman Jepang, pabrik tersebut dinasionalisasi oleh Pemerintah Indonesia.

Seusai menjalani rehabilitasi tahun 1960, pabrik itu berubah namanya menjadi PG Gondang Baru. Secara fisik, pabrik tidak banyak bersalin rupa. Sebagian peralatan produksi dari zaman Belanda masih digunakan. Pabrik masih menggunakan mesin uap penggerak roda pemotong batang tebu buatan Perancis. Dari plakat yang tertempel di tubuh mesin tertulis angka tahun 1884 sebagai tanggal pembuatan.

Di unit penguapan, tungku untuk menguapkan nila (hasil perahan tebu) juga masih menggunakan barang lama. Ada tungku yang tahun pembuatannya tahun 1928. Upaya peremajaan mesin sempat dilakukan tahun 1978, PG mencoba membuat tungku baru.

Namun, menurut para pekerja, mesin baru itu justru kalah jauh dari mesin buatan tahun 1928. PG Gondang Baru pernah mencapai puncaknya pada tahun 1989 dengan produksi hablur mencapai 186.000 kuintal. Namun, saat ini produksi hablur kurang dari 30.000 kuintal.

PG Gondang Baru adalah gambaran nasib pabrik gula tebu yang tidak mampu melawan perubahan. Ironisnya, sebagian pabrik itu statusnya termasuk dalam pengelolaan badan usaha milik negara (BUMN) melalui PT Perkebunan Nusantara dan PT Rajawali Nusantara Indonesia. Tercatat, dari 58 pabrik gula di Jawa, sebanyak 52 pabrik gula dimiliki oleh BUMN.

Pabrik gula biasanya memulai musim giling pada bulan Mei, mengikuti musim panen awal tebu. Proses giling tersebut akan berlanjut hingga tebu terakhir dipanen pada Oktober atau November. Namun, baru masuk Agustus, PG Gondang Baru sudah kehabisan bahan baku. ”Praktis masa giling hanya sekitar tiga bulan, sisanya selama tujuh bulan ya diisi dengan perbaikan,” kata Kepala Bagian Umum PG Gondang Baru Bambang Is.

Dari target giling tebu tahun ini sebanyak 1,4 juta kuintal, yang terealisasi hanya 1,04 juta kuintal. Kapasitas pabrik sebenarnya dirancang untuk bisa menggiling 1.600 ton tebu per hari (ton cane day/TCD). Namun, karena kondisi mesin yang tua, realisasi giling hanya di kisaran 1.350 TCD.

Tak pernah untung

Bambang mengatakan, produksi dari tahun ke tahun terus menurun sejalan dengan keberadaan kebun tebu yang semakin terdesak peralihan lahan untuk permukiman maupun industri. Selain karena peralihan lahan, produksi tebu tahun ini juga semakin berkurang akibat anjloknya harga gula tahun lalu. Harga yang jatuh sampai di bawah Rp 5.000 per kilogram menyurutkan minat petani untuk menanam tebu. Mereka memilih beralih menanam padi, palawija, maupun tembakau.

Berdasarkan catatan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, dari keseluruhan produksi gula yang dihasilkan oleh pabrik di Jawa Tengah, kontribusi PG Gondang Baru hanya sekitar 5 persen. PG Gondang Baru mengolah tebu dari kebun milik petani yang luasnya mencapai 2.500 hektar. Bandingkan misalnya dengan PG Pesantren Baru yang berlokasi di Kediri, Jawa Timur, yang mengolah tebu dari sekitar 10.000 hektar luasan lahan milik petani.

Dengan kondisi produksi yang tidak mampu menutup biaya produksi tersebut, tidak heran jika dalam sepuluh tahun terakhir ini kondisi keuangan pabrik yang berada di bawah naungan PT Perkebunan Nusantara IX itu berada dalam posisi minus. ”Masih minus, sama seperti tahun lalu, kalau dihitung-hitung ya sudah hampir sepuluh tahun ini belum pernah untung,” ujar Bambang.

Namun, sebagai badan usaha milik negara, opsi menutup pabrik adalah pilihan yang sulit diambil. Apalagi pabrik gula tergolong penyerap tenaga kerja dalam jumlah besar. Pada saat musim giling, PG Gondang bisa menyerap 1.000 tenaga kerja yang terdiri atas 700 buruh tidak tetap yang terlibat dalam pengiriman tebu, penimbangan tebu, sampai buruh kepras di kebun. Selain itu, ada 300 pegawai tetap yang harus terus digaji meski pabrik sudah tidak menggiling.

Menurut Bambang, upaya peremajaan sudah dijajaki manajemen pabrik dan direksi. PG Gondang Baru nantinya justru akan lebih banyak mengolah gula mentah (raw sugar) impor daripada menggiling tebu. ”Rencananya pabrik akan bisa menggiling selama 12 bulan penuh di mana delapan bulan untuk mengolah raw sugar dan empat bulannya tebu,” kata Bambang.

Ia merujuk PG Cepiring sebagai contoh pabrik gula tebu yang bisa bertahan hidup juga dengan mengolah raw sugar. Di tengah tekanan kekurangan bahan baku tebu dan kualitas rendeman tebu yang rendah, beralih pada raw sugar seolah menjadi jalan penyelamat. Bambang mengatakan rencana manajemen itu juga sesuai dengan kebijakan pemerintah. Sebagai solusi untuk menutup kegagalan produksi pabrik gula tebu, pemerintah mendorong perbanyakan pabrik gula rafinasi.

Jurus lompat pagar dengan mengembangkan usaha di luar bisnis gula sudah lebih dulu diambil oleh PG Gondang Baru agar bisa bertahan hidup. Sejak 2004, PG Gondang Baru mengembangkan wisata pabrik gula dan museum gula. Lokomotif dan lori yang terakhir kali digunakan untuk mengangkut tebu dari kebun tahun 1990 dihidupkan lagi sebagai kereta wisata.

Tidak hanya itu, perusahaan juga berencana mengembangkan proyek pemeliharaan sapi potong dan sapi perah di lahan pabrik yang tidak terpakai. Manajemen PG Gondang Baru bekerja sama dengan Koperasi Widodo Makmur di Cianjur untuk mendatangkan 1.500 sapi.

Mungkin akan jadi pemandangan yang ironis apabila akhirnya Gondang Baru yang dikenal sebagai pabrik gula berubah menjadi peternakan sapi. Musim giling tebu tampaknya bakal segera berakhir di Gondang Baru.

Sumber: Kompas, 23 Oktober 2009.

19:09

”Menjual” Museum Gula Gondang Klaten

by , in
Ada satu ironi setelah melihat kawasan wisata Candi Prambanan yang selalu ramai pengunjung, terlebih pada saat hari libur sekolah atau nasional. Pengunjung yang datang ke objek wisata di perbatasan antara Kabupaten Klaten (Jawa Tengah) dan Kabupaten Sleman (DIY) itu memang berjubel.
Namun ketika melewati depan Museum Gula Gondang Klaten, yang hanya berjarak sekitar 1 km ke arah timur Candi Prambanan, suasananya terlihat sepi senyap. Pada hari libur pun sepi, apalagi pada hari biasa.

Bisa dikatakan, museum yang diresmikan Gubernur Jawa Tengah (saat itu Soepardjo Rustam) pada tanggal 11 September 1982 ini selalu kesepian. Padahal lokasinya yang menyatu dengan kompleks Pabrik Gula (PG) Gondang Baru ini sangat strategis. Terletak di pinggir jalan raya Yogyakarta-Solo, yang tentu dilalui para wisatawan saat ingin berkunjung ke Prambanan atau ke berbagai objek wisata di Solo dan Yogyakarta.

Apakah ini sudah merupakan nasib museum di mana saja yang selalu sepi dari pengunjung. Seperti nasib Museum Radya Pustaka di pinggir Jalan Slamet Riyadi (jalan utama di Kota Solo), Museum Sonobudoyo Yogyakarta yang terletak di kawasan Alun-alun Utara, Museum Ronggowarsito di Semarang, dan sejumlah museum-museum lainnya di Indonesia.

Di Museum Gula, kita bisa menelusuri sejarah pabrik gula yang saat itu bernama PG Gondang Winangoen dan berdiri pada tahun 1860. Di masa pendudukan Jepang, pabrik gula ini sempat berhenti berproduksi, dan diubah menjadi pabrik dan gudang senjata bakatentara Jepang. Baru setelah masa kemerdekaan, pabrik gula ini kembali difungsikan lagi, dan tahun 1960 namanya diganti menjadi PG Gondang Baru.

Memasuki ruang museum, kita akan 'dikenalkan' dengan PG Gondang Baru melalui miniaturnya. Juga peta titik lokasi sejumlah pabrik gula di Jawa Tengah. Masuki ruangan kedua, kita dapat melihat berbagai alat pertanian yang digunakan untuk menanam tebu, jenis-jenis tebu, hama-hama pengganggu, dan lain sebagainya.

Di ruangan ketiga, terdapat berbagai peralatan untuk memproduksi tebu menjadi gula pada masa dulu. Dari mulai apa yang dinamakan amperemeter, sekering, trafo, mesin jahit karung, timbangan, dan aneka peranti tempo doeloe lainnya.

Memasuki ruangan berikutnya, kita dapat menyaksikan berbagai foto tradisi upacara selamatan ketika akan memulai giling tebu.Misalnya, upacara selamatan temanten tebu dengan berbagai upacara pendukung lain seperti pertunjukkan wayang kulit semalam suntuk, penanaman sesaji yang biasanya menggunakan kepala kerbau atau sapi untuk ditanam, demi memohon keselamatan selama masa dan pascaproduksi. Kegiatan itu biasanya dilaksanakan pada bulan Mei hingga September.

Di museum ini, para pengunjung juga dapat dilihat miniatur pabrik gula lain di Jawa Tengah, misalnya PG Tasikmadu (Karanganyar). Ada juga alat transportasi pengangkut tebu bernama kereta lori, yang menjadi pengangkut dari kebun ke pabrik. Hanya saja, saat ini lori hanya digunakan sebagai pengangkut tebu menuju stasiun penggililingan.

Ada salah satu lokomotif uap yang usianya tua dan oleh orang-orang pabrik dinamakan Simbah. Loko uap Simbah ini buatan Jerman (1818). Dulu, Simbah digunakan untuk mengangkut tetes tebu ke Stasiun Srowot untuk kemudian dibawa ke Semarang atau Surabaya.

Wisatawan Asing

Kalau melihat buku tamu dari pengunjung Museum Gula Gondang, sebenarnya ada sejumlah wisatawan asing yang mampir. Ada yang menulis dari Belanda, Jerman, Jepang, Belgia dan Inggris.

Melihat hal ini, sebenarnya museum ini juga bisa 'dijual' pada para wisatawan, baik asing maupun domestik. Hanya saja, diperlukan kreativitas agar lebih banyak wisatawan tertarik mampir ke tempat ini. Misalnya memoles berbagai upacara tradisi menuju musim giling agar mampu menjadi daya tarik bagi para wisatawan. Tentu berbagai kegiatan tradisi ini dapat dijadikan agenda tetap, kemudian dipromosikan, agar lebih banyak wisatawan dan masyarakat yang tahu.

Perlu juga dikembangkan paket wisata keliling pabrik gula dengan menggunakan lori pada hari-hari di luar masa produksi, sehingga makin menarik minat penguunjung museum untuk memanfaatkannya. Harus diakui, informasi tentang berbagai event dan paket wisata ini kurang dipromosikan kepada masyarakat. Brosur tentang museum ini juga jarang didapatkan di agen-agen wisata.

Untuk lebih mengenalkan objek wisata di Kabupaten Klaten, Dinas Pariwisata setempat bisa membuat paket-paket wisata. Misalnya dengan rute Candi Prambanan-Museum Gula-Desa Wisata Bayat.

Apalagi Bayat mempunyai objek wisata ziarah makam Sunan Bayat di Bukit Tembayat, sentra kerajinan batik di Desa Jarum, sentra kerajinan gerabah di Pager Jurang, atau makam Raden Ronggowarsito di Palar, Trucuk. Bisa juga membangun rute Candi Prambanan-Museum Gula Gondang-Deles Indah (lereng Merapi).

Masih banyak objek wisata potensial di Kabupaten Klaten yang bisa memesona wisatawan. Agar jejaring wisata ini makin meluas, bisa saja Dinas Pariwisata Klaten melakukan kerja sama dengan daerah tetangga, seperti Dinas Pariwisata Surakarta dan dan Dinas Pariwisata Yogyakarta. Misalnya membuat paket wisata mengunjungi museum di tiga kota itu: Museum Radya Pustaka (Solo) - Museum Gula Gondang (Klaten) - Museum Sonobudoyo (Yogyakarta). Berani dicoba?

Penulis: Hamid Nuri, pemerhati masalah kepariwisataan, tinggal di Kotagede, Yogyakarta. Sumber: Suara Merdeka, 27 Januari 2009.

My Instagram