“Singing On The Darkness”, Pameran Tunggal Patung Karya Dunadi




Mulut manusia menganga lebar, mengeluarkan banyak binatang yang berlarian seolah ketakutan. Menjauh dari mulut itu, dan bergerak keluar mencari kebebasan dari gelapnya keadaan.

Keberadaan manusia kini dipertanyakan. Komunikasi antarmanusia tak lagi digubah sebagai bentuk ruang etik atau sebagai penghormatan bersama. Justru yang muncul adalah ‘kegelapan’ tutur yang penuh dengan intimidasi.

Itulah manusia, disulut sedikit saja, api besar dan sumpah serapah akan muncul dari dalam diri manusia. Ada jiwa yang mencengangkan ditengah kelembutan manusia. Hasilnya, adalah teriakan gusar yang tak mampu dibendung seperti binatang yang lari ketakutan dan tak mampu lagi hadir dibenak manusia yang mengalami perubahan.

Itulah gambaran dari salah satu patung mulut manusia yang menganga lebar dalam pameran tunggal Dunadi bertajuk “Singing On The Darkness” di Jogja Galerry 10 Desember lalu.

Selama 20 tahun berkiprah menjadi seniman patung dengan karya-karya patung gigantik nya, namun inilah pertama kalinya ia mengadakan pameran tunggal. Tak mudah memang bagi seniman untuk dapat mengadakan pameran tunggal atas hasil karyanya.

Butuh waktu lama dan persiapan yang matang. Tapi Dunadi membuktikannya. Dan Kota Jogja, khususnya Jogja Gallery tentu akan mencatat peristiwa penuh sejarah dalam hidup seniman asal Bantul ini.

“Puluhan objek dalam wujud binatang dalam berbagai ukuran ini juga bukan semata simbol tunggal yang hanya mengungkapkan persoalan binatang itu sendiri. Akan tetapi, eksistensi binatang telah mencapai puncaknya sebagai kemarahan manusia”. Itulah yang disampaikan Mike Susanto, Kurator pameran yang juga menghadiri acara pembukaan pameran di Jogja Galerry malam itu.



Gagasan Dunadi dalam menciptakan karya-karya patung selama ini memang bersentuhan dengan suasana multi krisis masyarakat indonesia. Memiliki fungsi sosial atau pengingat peristiwa dan pengidentifikasi krisis massa. Keberhasilannya sebagai seniman patung murni yang memiliki spirit kritis, juga tak lepas dari peran Edhi Sunarso, Seniman senior yang karya-karya nya telah dikenal masyarakat dunia.

Di bangku kuliah, Edhi pula lah yang selalu mengajarkan kepadanya untuk selalu berkarya dengan selalu berpegang terhadap konsistensi aliran yang telah dianutnya sekarang.

“Dunadi adalah murid saya satu-satunya yang berhasil menunjukkan konsistensinya untuk berjalan dan menjadi seniman dengan aliran realis yang saya ajarkan dulu. Dan merupakan kebanggaan bagi saya melihat murid saya sekarang mampu mengadakan pameran tunggal. Saya pun berharap untuk seniman masa sekarang untuk memiliki sikap tidak cepat puas atas apa yang diraih”, jelas Edhi usai pembukaan pameran.

Sumber: Majalah Kabare, edisi Januari 2011 (Teks: Dwi Kurnia, foto: Albert).

My Instagram