09:28

Ambarketawang, The Ruins of Hamengku Buwono I

by , in
The ruins of the Ambarketawang palace can be reached by the road that leads from Jogjakarta to Wates. At the 5th kilometer, or at the intersection after the Restaurant “Mbok Berek”, turn left (south) and follow the road for about 500m. A signpost to the ruoins stands 50m from it. The location can be reached by public transport up to the intersectiion and the rest can be covered on foot. Administratively the site is in the village of Ambarketawang, Gamping district, Sleman regency.

The ruins of the palace Of the Prince Mangkubumi—better known under the name Hamengku Buwono I (1749-1792)—dates from the XVIIIth century. What remains of the palace are a pendopo (reception hall) of 9x6m, 5m in height, oriented to the west, and walls at the south west sides, at some places reaching 2.5m high. The location, charmingly nestled in the middle of the plantation and coconut trees, is so shaded that the walls are covered with moss. Nearby, 50m from the pendopo, inside a house, we can see a piece of thick wall, supposedly a remnant of the palace’s stables.

A little further, 180m to the west of the pendopo, there are other ruins of walls and barriers, now an integral part of the house of a villager. The wall were used by the guards (demang) of the palace and the place is until now called Kademangan. According to reseachers, the remains of the palace of Hamengku Buwono I are not limited to the three ruins but spread throughout the village of Ambarketawang.

The palace is also mentioned in the Giyanti Treaty (1755) when the Mataram kingdom was divided in two: Kasunanan (Solo) and Kasultanan (Jogjakarta). Although the two families of the Mataram fought the same enemy, the Dutch, their internal quarrels were stronger. Ambarketawang was thus the first palace of the branch to be constructed by Hamengku Buwono I, after he left Kartosuro. Finally, 50m at the east of the pavilion, we can see an old well, 1.5 in diameter and 2m deep.

The well is believed to posess a particular virtue. It is said that, in the 1970s, many disabled persons went there to be healed. The first case was that of invalid villagers who asked to be taken to the well to tkae a bath. He was accompanied by a number of people wanting to wash at the same time. Great was their surprise at seeing the invalid not only walking but also running as if possessed. The same thing happened to a becak driver who was paralyzed after an accident. After washing himself with the water he regained his ability to walk.

Before this miracles, the inhabitants of the village witnessed one night a blinding light descending from the sky towards the well. During the Javanese month of Sapar, the villagers hold a cewremony called Bekakak, which consists of sacrificing a made-of-food wedding couple. The couple represents the devotion to the King, referring to the servants of the palace who remained loyal to Hamengku Buwono I to death.

Source: Situs-Situs Marjinal Jogja (Sanctuaires Retrouvés/ Sites Out of Sight) - M. Rizky Sasono, Jean-Pascal Elbaz, Agung 'Leak' Kurniawan (Enrique indonesia, Yogyakarta: 1997).

18:16

Makna Filosofis Warna pada Bregada Prajurit Keraton Yogyakarta

by , in
Warna dapat dipahami dalam tiga tingkatan. Pertama, adalah warna secara murni yaitu penggunaan warna untuk warna itu sendiri; kedua, adalah warna secara harmonis yang mengungkap kenyataan optis; ketiga, adalah warna secara heraldis atau simbolis.

Pada Prajurit Kraton Yogyakarta, warna akan dipahami secara simbolis. Sebagai simbol, warna dapat ditemukan antara lain pada pakaian dan bendera (klebet/dwaja). Warna-warna yang digunakan biasanya adalah warna-warna dasar, seperti putih, merah, kuning, hitam dan biru, serta hijau.

Dalam dunia simbolik Jawa terdapat istilah mancapat dan mancawarna. Segala sesuatu di dunia dibagi empat yang disebar di keempat penjuru angin dan satu di tengah sebagai pusat.

Warna juga dibagi empat atau lima. Warna hitam terletak di utara, sementara merah berada di selatan. Warna putih diletakkan di timur, dan barat memiliki warna kuning. Di tengah, sebagai pusat, adalah perpaduan dari berbagai warna tersebut. Masing-masing warna tersebut berasosiasi dengan berbagai hal, seperti sifat, dewa, bunga, serta benda-benda.

Berikut adalah makna beberapa warna yang terdapat pada prajurit Kraton Yogyakarta.

Warna Hitam, Wulung dan Biru

Warna hitam digunakan pada baju dan celana Manggala, baju dan celanaPandhega, baju prajurit Prawiratama, baju sebagian prajurit Nyutra, topi mancungan dari Prajurit Dhaeng.

Pada bendera prajurit Patangpuluh, warna ini menjadi dasar dari bendera Cakragora. Warna ini juga terlihat pada sebutan bendera Nyutra, yaitu Padma-sri-kresna. Kresna bukan saja nama tokoh pahlawan dalam pewayangan Mahabharata, melainkan juga warna hitam, seperti warna badan Sri Kresna.

Warna hitam adalah warna tanah, berkaitan dengan sifat aluamah Dalam masyarakat Jawa, warna ini dapat diartikan sebagai keabadian dan kekuatan.
Warna wulung, yaitu hitam keunguan, digunakan misalnya untuk blangkon prajurit Dhaeng atau untuk dodot yang dikombinasikan dengan warna putih.

Warnawulung dekat dengan warna hitam, sehingga bermakna sama.

Warna biru, digunakan secara terbatas misalnya pada lonthong prajurit Dhaeng(Jajar Sarageni, Jajar Sarahastra dan prajurit Dhaeng Ungel-ungelan). Makna dari penggunaan warna ini barangkali dekat dengan makna warna biru yang berkonotasi teduh dan ayom.

Warna hitam dalam pembagian secara simbolik di Jawa (mancapat) berasosiasi dengan arah utara, besi, burung dhandhang (semacam bangau hitam), lautan nila (berwarna indigo atau biru), hari pasaran Wage, serta dewa Wisnu (Soehardi, 1996; 309).

Warna Merah dan Jingga

Merah digunakan pada beberapa pasukan. Pasukan yang menggunakan warna merah paling dominan adalah Prajurit Wirabraja, yang menggunakan warna ini pada topi centhung, baju sikepan, celana, hingga srempang, endhong (yang sekarang).

Pasukan lain yang cukup dominan menggunakan warna merah adalah Dhaeng. Warna merah diterapkan pada hiasan di depan dada, ujung lengan baju, serta plisir pada samping celana. Prajurit Nyutra menggunakan warna merah pada baju tanpa lengan dan celana. Prajurit Ketanggung menggunakan kain merah sebagai pelapis baju.

Prajurit Patangpuluh menggunakan warna merah untuk pelapis baju serta rangkapan baju dan celana. Warna merah juga digunakan dalam kain cindhe yang dikenakan oleh berbagai pasukan prajurit.

Untuk bendera, merah digunakan sebagai motif hias pada bendera Gula-klapa, yang merupakan bendera Kraton Yogyakarta meskipun sekarang dibawa oleh bregadaWirabraja.

Merah sering dikonotasikan dengan keberanian (Brontodiningrat 1978: 15). Dalam hal ini, sesuai misalnya dengan sebutan Wirabraja untuk prajurit yang dikenal sebagai pemberani. Dalam kamus dinyatakan bahwa "wira" berarti 'kendel' (Poerwadarminta 1939: 664) atau 'berani' dan "braja" berarti 'gegaman' atau senjata.

Warna merah penting bagi kebudayaan-kebudayaan di Nusantara sejak lama. Lukisan dinding gua, juga penguburan pada masa Prasejarah menggunakan warna ini dari serbuk batuan hematit. Warna ini juga menemukan makna filosofisnya pada masa Hindu hingga dimodifikasi pada masa Islam yang diwujudkan antara lain dalam warna merah dari bendera Gula-klapa.

Warna jingga atau oranye digunakan untuk baju dalam prajurit Jagakarya. Warna ini jarang digunakan dan sering dimasukkan ke dalam warna merah. Oleh karena itu, warna ini memiliki makna pemberani, mirip dengan warna merah.

Dalam pembagian simbolik di Jawa (mancapat), warna merah berasosiasi antara lain dengan api, selatan, logam swasa -yaitu campuran antara emas dan tembaga-, burung wulong, lautan darah, hari pasaran Pahing, serta Dewa Brahma (Soehardi, 1996; 309).

Warna Putih

Warna putih digunakan oleh hampir semua prajurit dalam berbagai bentuk, terutama untuk bagian yang sekunder seperti baju rangkap, atau sayak.

Pasukan yang menggunakan warna putih secara dominan adalah prajurit Dhaeng dan Surakarsa. Kedua pasukan ini menggunakan warna putih untuk baju dan celana panjang. Sebagian lain menggunakan warna putih untuk celana panjang, yaitu prajurit Ketanggung dan Patangpuluh.

Warna putih juga digunakan sebagai warna dasar bendera Gula-klapa yang dibawa pasukan Wirabraja dan bendera Bahningsari dari Pasukan Dhaeng. Dua pasukan ini berada pada urutan depan dari barisan seluruh pasukan kraton jika sedang melakukan defile.

Di urutan bagian belakang, prajurit Mantrijero menggunakan warna putih sebagai bentuk bulatan di tengah hitam yang merupakan warna dasar bendera. Bendera ini disebut dengan Purnamasidhi, yaitu bulan purnama.

Di Kraton Yogyakarta, warna putih juga digunakan pada plak payung ampeyan KGPH atau Patih yang menyandang nama Pangeran (Isnurwindryaswari 2004:106).

Warna putih berdekatan makna dengan kebersihan atau kesucian. Hubungan antara putih dengan kesucian sudah berlangsung lama dalam sejarah kebudayaan.

Didalam struktur pemerintahan kerajaan-kerajaan di Jawa terdapat abdi dalem yang disebut Pamethakan. Istilah ini berasal dari bahasa Jawa yang berarti putih. Pakaian abdi dalem ini berwarna putih. Abdi dalem ini bertugas menangani hal-hal yang berkaitan dengan keagamaan.

Dalam pembagian warna secara simbolik di Jawa (mancapat), warna putih berasosiasi antara lain dengan arah timur, perak, burung kuntul (bangau), air, santan, haripancawala Legi, serta Dewa Komajaya (Soehardi, 1996; 308).

Warna Kuning dan Emas

Warna kuning tidak digunakan secara dominan pada prajurit kraton; hanya untuk hiasan, seperti hiasan lengan pada prajurit Nyutra. Warna kuning juga merupakan warna dasar dari bendera kedua regu pasukan Nyutra. Salah satunya adalah bendera Podhang Ngingsep Sari. Nama podhang berkaitan dengan warna bulu burung ini yang kuning.

Warna kuning bermakna keluhuran, ketuhanan, dan ketenteraman (Brontodiningrat, 1978; 15). Dalam upacara selamatan pada masyarakat Jawa, juga sering dihadirkan nasi kuning sebagai bagian dari sesaji. Hal ini merupakan simbol pengharapan akan keselamatan dari Tuhan yang Maha Kuasa.

Di Kraton Yogyakarta, warna kuning antara lain hadir pada warna plak payung yang digunakan oleh pangeran sentana, juga payung yang digunakan untuk menaungi makanan dan minuman yang dihidangkan untuk Sultan (Isnurwindryaswari, 2004; 110).

Dekat dengan warna kuning adalah warna emas. Warna kuning emas digunakan misalnya oleh prajurit Wirabraja untuk plisir pada topi centhung Panji, plisir pada baju sikepan Panji. Warna emas digunakan antara lain untuk membedakan antara Lurah dan prajurit Jajar, sebagaimana terlihat pada pasukan Patangpuluh, prajurit Jagakarya. Warna emas adalah lambang kemuliaan dan keagungan (Herusatoto, 1985; 95).

Warna emas (prada) mengandung makna kemuliaan dan kemakmuran yang dapat meningkatkan kewibawaan raja (Herusatoto, 1985; 95). Sebagai logam mulia, emas merupakan logam yang stabil, tidak mudah bereaksi terhadap unsur-unsur lain. Logam ini juga merupakan logam yang indah, mudah dibentuk, serta langka. Oleh karena itu, emas termasuk logam berharga.

Di Kraton, emas atau prada digunakan untuk mewarnai beberapa bagian bangunan, seperti umpak, tiang, dan sebagainya, untuk tempat-tempat yang disinggahi oleh Sultan. Selain itu, warna emas juga terdapat pada payung kebesaran Sultan, KanjengKyai Tunggul Naga (Isnurwindryaswari, 2004; 110). Banyaknya warna prada pada lambang-lambang kerajaan disebabkan karena warna ini menimbulkan kultus kemegahan (Moertono, 1985; 73).

Warna kuning dalam pembagian simbolik di Jawa (mancapat), antara lain berasosiasi dengan udara, arah barat, emas, burung podhang, lautan madu, hari Pon, serta Dewa Bayu (Soehardi, 1996; 309).

Warna hijau

Warna hijau, digunakan antara lain pada sayak Lurah prajurit Patangpuluh. Pada bendera, muncul pada warna bendera Pareanom, serta bendera Papasan. Warna kedua bendera ini meniru warna buah-buahan. Warna ini adalah simbol pengharapan (Brontodiningrat, 1978; 15).

Sumber : Buku Prajurit Kraton Yogyakarta, Filososfi dan Nilai Budaya yang Terkandung di dalamnya, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Yogyakarta, 2008.
18:32

Makna Filosofis dan Nilai Budaya Prajurit Keraton Jogjakarta

by , in
Pangeran Mangkubumi (Sri Sultan Hamengku Buwono I) sebagai pendiri Dinasti Mataram - Ngayogyakarta, adalah seorang ahli strategi perang, juga seorang arsitek, negarawan dan budayawan sejati.

Sri Sultan Hamengku Buwono I sangat memegang teguh akan pentingnya nilai historis maupun filosofis-religius yang dipercaya dapat berpengaruh pada sikap perilaku dirinya sebagai raja berpengaruh pada para kawulanya. Itulah sebabnya pada waktu negosiasi dengan Comm. Gen. N. Hartingh di desa Pedagangan, Grobogan tanggal 22 - 23 September 1754, Pangeran Mangkubumi bersikukuh letak Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat harus di Hutan Beringan, desa Pacethokan, diapit Sungai Code dan Sungai Winongo, di Utara ada Gunung Merapi dan di Selatan ada Samodra Indonesia.

Pemilihan letak pusat kerajaan sekaligus sebagai pusat pemerintahan tersebut tidak sekadar didasarkan atas pertimbangan fisik dan teknis semata. Justru pertimbangan faktor filosofi, religi dan budaya yang lebih dominan.

Pada waktu Sri Sultan Hamengku Buwono I menciptakan satuan prajurit Kasultanan sampai penempatan lokasi tempat tinggal prajurit yang menyerupai tapal kuda terhadap lokasi kraton Yogyakarta pun tidak lepas dari pertimbangan filosofis, teknis dan budaya.

Falsafah dasar yang diletakkan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I di dalam membentuk watak prajurit kraton adalah "Watak Ksatriya" atau "Wataking Satriya Ngayogyakarta' yang dilandasi dengan credo (sesanti) Sawiji, Greget, Sengguh, Ora Mingkuh.

Falsafah Sawiji (Nyawiji), Greget, Sengguh, Ora Mingkuh ini merupakan budaya ide Sri Sultan Hamengku Buwono I, kemudian dimanifestasikan dalam budaya perilaku. Sesanti ini dipegang sebagai falsafah hidup, pandangan hidup dan falsafah Joged Mataram.

Sebagai Falsafah Hidup

Sawiji artinya orang harus selalu ingat kepada Tuhan Yang Maha Esa. Greget berarti seluruh aktivitas dan gairah hidup harus disalurkan melalui jalan Allah SWT. Sengguh dimaknai sebagai harus merasa bangga ditakdirkan sebagai makhluk paling sempurna. Ora mingkuh artinya, meskipun mengalami banyak kesukaran-kesukaran dalam hidup, namun selalu percaya kepada Tuhan Yang Maha Adil.

Sebagai Pandangan Hidup

Sawiji diartikan konsentrasi yang harus diarahkan ke tujuan hidup atau cita-cita. Greget adalah dinamika dan semangat hidup yang harus diarahkan ke tujuan melalui saluran - saluran yang wajar. Sengguh artinya percaya penuh pada kemampuan pribadinya untuk mencapai tujuan. Ora mingkuh perlu dipegang erat-erat. Meskipun dalam perjalanan menuju ke tujuan (cita-cita) akan menghadapi halangan-halangan tetap tidak akan mundur setapakpun.

Sebagai Falsafah Joged Mataram

Sawiji artinya konsentrasi total tanpa menimbulkan ketegangan jiwa. Greget bermakna dinamis atau semangat yang membara di dalam jiwa setiap penari tidak boleh dilepaskan begitu saja, akan tetapi harus dapat dikekang untuk disalurkan ke arah yang wajar dan menghindari tindakan yang kasar. Sengguh itu percaya diri sendiri tanpa mengarah ke kesombongan atau pongah. Ora mingkuh sikap yang tidak lemah jiwa atau kecil hati, tidak takut menghadapi kesukaran - kesukaran dan mengandung arti penuh tanggung jawab.

Falsafah Sawiji, Greget, Sengguh, Ora Mingkuh dijadikan landasan pembentukan watak kesatriya yang pengabdiannya hanya ditujukan pada nusa, bangsa dan negara. Watak luhur berdasar idealisme dan komitmen atas kebenaran dan keadilan yang tinggi, integritas moral serta nurani yang bersih.

Kesatrya itu penampilannya dilengkapi dengan pakaian yang sering disebut dengan Baju Takwa. Baju Takwa dimaksud juga disebut dengan Pengageman Mataraman atau Surjan. Dalilnya adalah Al Qur'an, Surat Al A'raaf ayat 26, yang terjemahannya :"Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebagian dan tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat".

Pakaian takwa secara resmi merupakan pakaian identitas "Wong Ngayogyakarta" yang ditentukan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I beberapa waktu setelah perjanjian Giyanti ditandatangani.

Sumber : Buku Prajurit Kraton Yogyakarta, Filososfi dan Nilai Budaya yang Terkandung di dalamnya, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Yogyakarta, 2008.

My Instagram